OTT Walikota Medan

Dzulmi 'Palak' Kadis PUPR untuk Nutup Biaya Boyong Keluarga ke Jepang

publicanews - berita politik & hukumWalikota Medan Tengku Zulmi Eldin saat tiba di Gedung KPK, Rabu (16/10), setelah diboyong dari Medan. (Foto: Publicanews/Dok)
PUBLICANEWS, Jakarta - Sebelum menangkap tangan Walikota Medan Tengku Dzulmi Eldin, Tim Penindakan KPK mendapatkan informasi akan ada permintaan uang dari Dzulmi untuk menutupi biaya perjalanan dinasnya bersama jajaran Pemkot ke Jepang. Dalam perjalanan tersebut Dzulmi mengajak keluarganya.

"Diketahui Walikota membawa serta keluarganya pada perjalanan dinas tersebut," ujar Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dalam keterangan pers di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (16/10) malam.

Karena membawa keluarga yang tidak berkepentingan, pengeluaran perjalanan dinas tidak dapat dipertanggungjawabkan dan tidak bisa dibayarkan dengan dana APBD. Pihak biro perjalanan kemudian menagih pembayaran kepada Dzulmi.

Dzulmi lalu menemui Kasubbag Protokol Pemkota Syamsul Fitri Siregar (SFI) dan memerintahkannya untuk mencari dana untuk menutupi ekses dana nonbudgeter senilai Rp 800 juta.

Syamsul kemudian membuat daftar 'target' kepala-kepala dinas yang akan dimintai kutipan, termasuk para kadis yang ikut ke Jepang. Kadis PUPR Isa Ansyari yang diangkat semasa Walkot Dzulmi, meskipun tidak ikut pelesir ke Jepang, turut dimintai uang.

"Di dalam daftar tersebut, IAN ditargetkan untuk memberikan dana sebesar Rp 250 juta," kata Saut.

Pada 13 Oktober 2019, Syamsul menghubung Isa untuk meminta bantuan dana sebesar Rp 250 juta. Keesokan harinya Isa menghubungi Syamsul yang meminta uang ditransfer ke rekening atas nama kerabat dari APP, ajudan Dzulmi.

Pada 15 Oktober 2019, Isa mentransfer Rp 200 juta. Syamsul lalu menemui APP dan menyampaikan bahwa uang sudah ditransfer ke rekening kerabatnya. APP kemudian meminta kerebatnya tersebut agar menyerahkan uangnya ke rekan APP, sesama ajudan Dzulmi. Uang lalu disimpan di ruangan protokoler Pemkot Medan.

"Salah satu ajudan Walikota Medan yang lain, yaitu AND, kemudian menanyakan kepada Isa tentang kekurangan Rp 50 juta. Isya menyampaikan untuk mengambil uang tersebut secara tunai di rumahnya," Saut menambahkan.

Pada hari yang sama, sekitar pukul 20.00 WIB, AND datang ke rumah Isa untuk mengambil uang Rp 50 juta untuk Dzulmi.

Dalam perjalanan dari rumah Isa, KPK memergoki AND. Namun tim tidak berhasil mengamankannya karena ia kabur setelah berusaha menabrak anggota tim KPK.

Tim kemudian bergerak ke rumah Isa dan mengamankannya sekitar pukul 21.30 WIB. Pukul 23.00 WIB, tim bergerak ke sebuah rumah sakit di Kota Medan dimana Dzulmi sedang melakukan fisioterapi.

"Tim kemudian mengamankan APP yang sedang mendampingi Dzulmi di rumah sakit," kata Saut.

Pada Rabu (16/10) sekitar pukul 01.30 WIB, Tim Penindakan KPK menuju kantor Walikota dan mengangkap SSO beserta uang tunai Rp 200 juta dari laci kabinet di ruang protokoler.

"Terakhir tim mengamankan Syamsul di rumahnya pukul 11.00 WIB, Rabu, 16 Oktober 2019," kata Saut. (han)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Anak Gaul @gakasikah17 Oktober 2019 | 07:09:04

    pantes untuk diberi hukuman nih orang. memyelewengkan kedudukannya oiii. enak amat loh.

Back to Top