Mantan Kalapas Sukamiskin dan Wawan Tersangka Jual Beli Fasilitas Sel

publicanews - berita politik & hukumKomisioner KPK menggelar keterangan pers penetapan lima tersangka kasus dugaan jual beli fasilitas sel Lapas Sukamiskin, di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (16/10) malam. (Foto: Publicanews/Hartati)
PUBLICANEWS, Jakarta - Mantan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin Wahid Husein kembali menjadi tersangka. Kali ini KPK menjerat Wahid untuk kasus dugaan jual beli fasilitas atau perizinan keluar lapas di Bandung, Jawa Barat, itu.

Selain Wahid, KPK juga menersangkakan Kalapas Sukamiskin periode 2016-Maret 2018 Deddy Handoko (DHA), Direktur Utama PT Glori Karsa Abadi Rahadian Azhar (RAZ), serta dua napi Tubagus Chaeri Wardana (TCW) alias Wawan dan Fuad Amin (FA).

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan mengatakan, penetapan tersangka ini merupakan pengembangan perkara yang menjerat Wahid sebelumnya. Wahid terkena OTT pada 20-21 Juli 2018 di Bandung dan Jakarta.

KPK, ujar Basaria, menemukan sejumlah fakta-fakta baru dugaan keterlibatan pihak lain dalam jual beli fasilitas lapas. "Dalam penyidikan tersebut sekaligus ditetapkan 5 orang tersangka," ujar Basaria dalam keterangan pers di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (16/10) malam.

Basaria mengungkapkan, Wawan diketahui memiliki napi pendamping Deddy yang mengurus segala keperluannya. Misalnya, izin berobat di luar lapas, mengurus kebutuhan sehari-hari, membantu negosiasi dengan pihak lapas, maupun berkomunikasi dengan pihak swasta di luar lapas.

5 Tahun Menyidik, KPK Akhirnya Limpahkan Tiga Kasus Wawan ke Penuntutan

Adik eks Gubernur Banten Atut Ratu Chosiyah itu adalah terpidana kasus suap penanganan sengketa Pilkada Kabupaten Lebak 2013 di Mahkamah Konstitusi. Ia tengah menjalani vonis tujuh tahun penjara.

Wawan sendiri mengenal tersangka Deddy pada 2017 dan Wahid yang menggantikan Deddy pada 2018.

Selama menghuni Lapas Sukamiskin pada 26 September 2016-14 Maret 2018, suami Walikota Tangerang Selatan Airin Rahmi Diani itu telah memberi mobil Toyota Kijang Innova Putih Reborn G Luxury dengan nomor polisi D101CAT kepada Deddy. Adapun untuk Wahid, selama priode 14 Maret 2018-21 Juli 2018, Wawan menghadiahi uang Rp 75 juta.

"Pemberian-pemberian tersebut diduga memiliki maksud untuk mendapatkan kemudahan izin keluar Lapas dari DHA dan WH saat menjadi Kalapas Sukamiskin. Izin yang berusaha didapatkan adalah izin berobat ke luar lapas maupun izin luar biasa," Basaria menjelaskan.

Pada Maret 2018, Wahid mengenal seorang warga binaan yang kemudian ia panggil ke ruangannya sebulan kemudian. Dalam pertemuan itu, ia menanyakan tentang Jeep Toyota Landcruiser milik warga binaan tersebut untuk ia pakai.

Halaman selanjutnya


  • 2

    +

    Napi tersebut, menurut Basaria, mempersilakan Wahid menggunakan mobil warna hitam dengan nomor polisi F 68 UP itu. Sepekan kemudian, mobil diantar ke Lapas Sukamiskin beserta BPKB-nya. Sejak saat itu, Wahid menggunakan mobil tersebut sebagai kendaraan sehari-hari.

    "Selanjutnya, pada awal Mei 2018, WH memerintahkan untuk melakukan proses balik nama, dari semua atas nama salah satu warga binaan menjadi nama salah satu pembantu di rumah mertua WH," Basaria menjelaskan.

    Dua bulan kemudian, proses balik nama mobil Toyota Landcruiser selesai. Nomor polisi telah berubah dari semula F 68 UP menjadi D 1252 OY.

    Meski bukan atas nama Wahid, hingga saat itu mobil masih dalam penguasaan Wahid. Atas penerimaan itu, Wahid tidak melaporkannya sebagai gratifikasi kepada KPK sebagaimana ketentuan Pasal 12 C UU Tindak Pidana Korupsi.

    Sedangkan tersangka Rahadian yang telah bekerja sama dengan beberapa lapas sebagai Mitra Koperasi dan Mitra Kerja Sama Pembinaan Warga Binaan. Pada Maret 2018, ia diminta tolong Wahid mencarikan mobil pengganti yang lebih besar. Mobil Wahid saat itu adalah Toyota Innova Hitam dengan nomor polisi B 1697 SRZ.

    Rahadian kemudian membeli Wahid seharga Rp 200 juta dan menggantikannya dengan Mitsubishi Pajero sport hitam senilai Rp 500 juta.Ia meminta Wahid mengangsur Rp 14 juta per bulan. Namun Wahid keberatan membayar cicilan sehingga Rahadian yang membayarnya.

    "Pada 28 Juni 2018 terjadi penyerahan mobil Mitsubishi Pajero Sport warna hitam dari RAZ kepada WH," kata Basaria.

    Ironis, Wahid Husein 'Pulang' ke Sukamiskin Namun Sebagai Napi

    KPK menjerat Wahid dan Deddy dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

    Sementara Wawan dan Fuad Amin disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 UU yang sama juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP. Namun Fuad Amin sudah meninggal.

    Adapun Rahadian dikenakan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 UU yang sama.

    Wahid sendiri kini adalah napi di lapas yang pernah dipimpinnya. Ia terjerat OTT kasus jual beli fasilitas sel bersama Fahmi Darmawansyah, staf Kalapas Sukamiskin Hendry Saputra, dan narapidana kasus umum Andri Rahmat. Wahid divonis 8 tahun, sementara Fahmi 3,5 tahun. (han)


Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top