Vice President Angkasa Pura II Mulyadi Diperiksa KPK

publicanews - berita politik & hukumGedung KPK (Foto: Publicanews)
PUBLICANEWS, Jakarta - Anak buah tersangka Andra Y Agussalam saat menjabat Direktur Keuangan PT Angkasa Pura (AP) II, Mulyani, dipanggil KPK. Mulyadi adalah Vice President of Corporate Financial Control. Ia sedianya diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap proyek pengadaan Baggage Handling System (BHS) yang dikerjakan oleh PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI).

"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka DMP (Dirut PT INTI Darman Mappangara.),"‎ kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Jumat (4/10).

Selain Mulyadi, KPK juga memanggil Vice President of Operation and Business Development PT Angkasa Pura Propertindo (APP) Pandu Mayor‎ Hermawan. APP adalah anak usaha AP II dimana proyek sistem penanganan bagasi ini berada.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan Andra dan Taswin Nur, orang kepercayaan Darman Mappangara, sebagai tersangka. KPK menduga keduanya bersama-sama menyuap Andra untuk mengawal agar proyek BHS dikerjakan oleh INTI.

Pada 2019, INTI mengerjakan sejumlah proyek AP II, seperti proyek Visual Docking Guidance System (VGDS) dengan nilai Rp 106,48 miliar, Bird Strike beranggaran Rp 22,85 miliar, serta pengembangan bandara sebesar Rp 86,44 miliar.

KPK menduga Darman bersama-sama Taswin menyuap Andra untuk mengawal proyek BHS yang dikerjakan oleh PT. INTI. Pada 2019, INTI mengerjakan sejumlah proyek AP II, seperti Visual Docking Guidance System (VGDS) dengan nilai proyek Rp 106,48 miliar, Bird Strike senilai Rp 22,85 miliar, serta pengembangan bandara beranggaran Rp 86,44 miliar.

Anak perusahaan PT Telkom itu juga memiliki daftar prospek proyek tambahan di AP dan anak usahanya PT Angkasa Pura Propertindo. Poyek tersebut adalah X-Ray 6 bandara senilai Rp 100 milia, BHS di enam bandara senilai Rp 125 miliar, VDGS senilai Rp 75 miliar, serta proyek radar burung senilai Rp 60 miliar.

"PT INTI diduga mendapatkan sejumlah proyek berkat bantuan tersangka AYA. Tersangka AYA diduga menjaga dan mengawal proyek-proyek tersebut supaya dimenangkan dan dikerjakan oleh PT INTI," kata Febri.

KPK mengidentifikasi adanya komunikasi antara Darman dan Andra untuk mengawal proyek-proyek tersebut. Darman juga memerintahkan Taswin untuk memberikan uang pada Andra.

Mereka menggunakan 'aturan', bahwa uang suap harus tunai. Jika jumlahnya besar maka digunakan mata uang dolar AS atau dolar Singapura. Untuk menyamarkan suap, mereka menggunakan sandi 'buku' atau 'dokumen'. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top