Suap Dana Hibah KONI

KPK Panggil Menpora Secepatnya, Langsung Ditahan?

publicanews - berita politik & hukumImam Nahrawi saat diperiksa KPK sebagai saksi pada 24 Januari 2019. (Foto: Publicanews/dok)
PUBLICANEWS, Jakarta - Setelah menetapkannya sebagai tersangka, KPK memastikan akan memeriksa Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi sebagai tersangka. Kasus yang membelit politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu adalah dugaan menerima suap dana hibah pemerintah untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan gratifikasi.

"Segera. Tanggalnya berapa, tim penyidiklah yang memanggil yang bersangkutan," ujar Wakil Ketua KPK Alexander Marwata dalam keterangan pers di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (18/9) petang.

Ada kabar berkembang, KPK akan langsung menahan Imam dalam pemeriksaan perdananya sebagai tersangka nanti. Apalagi KPK telah menahan asisten pribadinya Miftahul Ulum pada Rabu (11/9) pekan lalu. Miftahul kini mendekam di Rutan Gedung KPK.

Proses penyidikan terhadap Menteri Imam telah berlangsung sejak 25 Juni, KPK bahkan sudah memanggilnya tiga kali. Namun Imam tidak pernah datang.

KPK menduga Imam dan Ulum menerima suap Rp 14,7 miliar dalam rentang 2014-2018. Kemudian pada periode 2016-2018, Imam diduga juga meminta uang Rp 11,8 miliar kepada KONI. Total dugaan penerimaan Imam dari suap dan gratifikasi sebesar Rp 26,5 miliar.

Uang tersebut diduga merupakan commitment fee atas pengurusan proposal hibah yang diajukan oleh pihak KONI kepada Kemenpora dan penerimaan terkait posisinya sebagai Ketua Dewan Pengarah Satlak Prima.

"Dan penerimaan lain yang berhubungan dengan jabatan Imam Nahrawi selaku Menpora. Uang tersebut diduga digunakan untuk kepentingan pribadi Menpora dan pihak Iain yang terkait," kata Alex.

Dana hibah Kemenpora untuk KONI adalah Rp 17,9 miliar. Sebelum proposal diajukan, diduga telah ada kesepakatan antara pihak Kemenpora dan KONI untuk mengalokasikan fee sebesar 19,13 persen atau sejumlah Rp 3,4 miliar.

Dalam proses persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, muncul dugaan penerimaan dari pihak lain di Kemenpora terkait dengan penggunaan anggaran Kemenpora 2014-2018.

"Penerimaan tersebut diduga digunakan untuk kepentingan pribadi melalui asisten pribadinya," Alex menjelaskan.

Penetapan tersangka Imam dan Ulum ini merupakan pengembangan perkara yang telah menjerat ‎lima tersangka sebelumnya. Mereka yakni Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy, Bendum KONI Jhonny E Awuy, Deputi IV Kemenpora Mulyana, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Kemenpora Adhi Purnomo, dan staf Kemenpora. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top