Kasus Mafia Migas

Ini Cara Bambang Irianto Main Mata dengan Kernel Oil

publicanews - berita politik & hukumWakil Ketua KPK Laode M Syarif. (Foto: Publicanews/Hartati)
PUBLICANEWS, Jakarta - Kasus mafia minyak dan gas (migas) yang menjerat Bambang Irianto bermula ketika ia diangkat sebagai Vice President Marketing Pertamina Energy Service Pte Ltd (PES) pada 6 Mei 2009. Tugasnya adalah membangun membangun dan mempertahankan jaringan bisnis, mencari peluang yang akan menambah nilai untuk perusahaan, mengamankan ketersediaan suplai, serta melakukan perdagangan minyak mentah dan produk kilang.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif menjelaskan, Bambang kemudian bertemu dengan perwakilan Kernel Oil yang dikenalnya sejak masih bekerja di kantor Pusat PT Pertamina. Kernel adalah salah satu rekanan dalam perdagangan minyak mentah dan produk kilang PES, anak perusahaan Pertamina.

Selama periode 2009 sampai dengan Juni 2012, Bambang beberapa kali mengundang Kernel untuk menjadi rekanan ekspor dan impor minyak mentah. Laode mengatakan, Bambang membantu mengamankan jatah alokasi kargo Kernel Oil dalam tender minyak mentah.

"Dan sebagai imbalannya, diduga BTO menerima sejumlah uang melalui rekening bank di luar negeri," kata Laode dalam keterangan pers di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (10/9) siang. "Untuk mendampung penerimaan tersebut, tersangka BTO mendirikan SIAM Group Holding Ltd yang berkedudukan hukum di British Virgin Island," ia menambahkan.

Pada 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar Pertamina meningkatkan efisiensi dalam perdagangan minyak mentah dan BBM dengan mengutamakan pembelian langsung ke sumber-sumber utama.

Atas arahan tersebut, PES seharusnya mengacu pada pedoman yang menyebutkan penetapan penjual atau pembeli melalui competitive bidding atau direct negotiation. Peserta lelang dipriotitaskan adalah perusahaan minyak nasional, Refiner/Producer, dan Potential Seller/Buyer.

Perusahaan yang dapat menjadi rekanan PES adalah perusahaan-perusahaan yang masuk dalam Daftar Mitra Usaha Terseleksi (DMUT) PES. Namun, kata Laode, tidak semua perusahaan yang terdaftar pada DMUT PES diundang mengikuti tender.

"Tersangka BTO bersama sejumlah pejabat PES menentukan rekanan yang akan mengikuti tender, salah satunya Emirates Company National Oil (Enoc)," Laode menjelaskan.

KPK menduga Enoc merupakan 'perusahaan bendera' yang digunakan Kernel Oil. Bambang diduga mengarahkan untuk tetap mengundang Enoc meskipun bukan perusahaan yang mengirim kargo ke PES/Pertamina.

Laode mengungkapkan, selama periode 2010-2013 Bambang menerima setidaknya 2,9 juta dolar AS, sekitar Rp 40,7 miliar dengan kurs sekarang, melalui rekening SIAM, perusahaan yang ia dirikan.

"Suap atas bantuan yang diberikannya kepada pihak Kernel Oil terkait dengan kegiatan perdagangan produk kilang dan minyak mentah kepada PES/Pertamina di Singapura dan pengiriman kargo," kata Laode.

KPK menjerat Bambang Irianto dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top