KPK Intens Dalami Aliran Suap Rp 100 Miliar dalam Kasus Garuda

publicanews - berita politik & hukum
PUBLICANEWS, Jakarta - KPK intens mendalami perputaran uang lintas negara dalam kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang menjerat mantan Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia,Emirsyah Satar.

Sejauh ini, KPK mengidentifikasi ada aliran uang suap Rp 100 miliar yang terkait dengan pengadaan pesawat Garuda maupun anak usahanya PT Citilink Indonesia.

"Kami menelusuri arus uangnya dan untuk apa uang itu digunakan, termasuk pembelian rumah. Itu menjadi perhatian KPK dalam kasus TPPU ini," kata Jubir KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (22/8) malam.

Kasus TPPU ini merupakan pengembangan dari perkara suap pembelian 50 unit pesawat Airbus bermesin Rolls- Royce. Dalam kasus pokok tersebut, KPK juga pendiri PT Mugi Rekso Abadi sekaligus Beneficial Owner Connaught International Pte.ltdĀ  Soetikno Soedarjo dan mantan Direktur Teknik dan Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia Hadinoto Soedigno.

KPK menduga Emirsyah dan Hadinoto tidak hanya menerima suap dari Soetikno, melainkan juga sejumlah proyek lain di Garuda. Antara lain, untuk program peremajaan pesawat,

Aliran uang lintas negara tersebut diidentifikasi menggunakan sekitar 30 rekening di luar negeri. Febri mengatakan, sebagian rekening merupakan milik Emir, sebagian lainnya atas nama orang lain.

Puluhan rekening itu digunakan untuk menampung fee dari Rolls-Royce sebelum dikirim atau diberikan !epada Emirsyah dan Hadinoto dalam bentuk tunai maupun barang.

Untuk itu, KPK menjerat Emirsyah dan Soetikno dengan pasal pencucian uang lantaran terdapat upaya menyamarkan suap.

"Kami juga menduga ada upaya kamuflase dari pihak-pihak tertentu. Jadi seolah-olah uang yang diterima itu atau uang yang digunakan untuk membeli aset itu adalah uang yang sah padahal sebenarnya itu diduga berasal dari hasil korupsi," Febri menandaskan. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top