Yul Dirga Atur 'Solusi Damai' Pajak PT WAE, Begini Modusnya

publicanews - berita politik & hukumWakil Ketua KPK Saut Situmorang. (Foto: Publicanews/Hartati)
PUBLICANEWS, Jakarta - Untuk mengurangi kewajiban pajaknya, Komisaris Utama PT Wahana Auto Ekamarga (WAE) Darwin Maspolim menyuap empat pejabat Kantor Pelayanan Pajak (KPP) PMA 3 Kanwil Jakarta Khusus. Mereka adalah Kepala KPP Yul Dirga, Supervisor Tim Pemeriksa Pajak WAE Hadi Sutrisno (HS), Ketua Tim Pemeriksa Pajak WAE Jumari, dan anggota tim M Naim Fahmi (MNF).

Kewajiban pajak dealer mobil-mobil mewah itu total adalah Rp 7,73 miliar untuk tahun pajak 2015 dan 2016.

"Tersangka DM, pemilik saham PT WAE, diduga memberi suap sebesar Rp 1,8 miliar untuk YD, HS, JU, dan MNF agar menyetujui pengajuan restitusi pajak 2015 sebesar Rp 5,03 miliar dan tahun pajak 2016 sebesar Rp 2,7 miliar," ujar Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dalam keterangan pers di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (15/8) sore.

Suap terjadi ketika WAE menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan dengan mengajukan restitusi sebesar Rp 5,03 miliar.

Kemudian KKP PMA 3 melakukan pemeriksaan lapangan oleh tim beranggotakan tiga orang. Mereka adalah Hadi Sutrisno, Jumari, dan Naim.

"Dari hasil pemeriksaan, tersangka HS menyampaikan kepada PT WAE bahwa hasil pemeriksaan bukan lebih bayar, melainkan kurang bayar. HS menawarkan bantuan untuk menyetujui restitusi dengan imbalan di atas Rp1 miliar," kata Saut.

Darwin Maspolim setuju 'solusi damai' tersebut, kemudian WAE mencairkan uang dalam dua tahap dan menukarkan dalam bentuk valuta asing, yakni dolar AS.

Lalu pada April 2017 terbit Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak Penghasilan yang menyetujui restitusi sebesar Rp 4,59 miliar. SKPLB diteken oleh Yul Dirga sebagai Kepala KPP PMA 3.

Sekitar awal Mei 2017, salah satu staf WAE menyerahkan uang 73.700 dolar AS pada Hadi di parkiran sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Barat. Uang dibawa dalam kantong plastik hitam.

"Uang tersebut kemudian dibagi HS pada YD, Kepala KPP PMA 3 dan tim pemeriksa, yaitu JU dan MNF, sekitar 18.425 dolar per orang," Saut menjelaskan.

Praktik culas kembali terjadi untuk 2016. WAE kembali menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan dengan mengajukan restitusi sebesar Rp 2,7 miliar.

Sebagai tindak lanjut, ujar Saut, Yul Dirga kembali memerintahkan tim yang sama ke WAE. Modusnya sama, Hadi memberitahukan pihak WAE bahwa terdapat banyak koreksi sehingga yang seharusnya lebih bayar menjadi
kurang bayar.

Namun kali ini WAE menolak uang damai Rp 1 miliar. Mereka hanya sanggup Rp 800 juta. Transaksi kembali menggunakan sarana money changer untuk menukar uang rupiah menjadi dollar AS.

Pada Juni 2018 terbit SKPLB Pajak Penghasilan yang menyetujui restitusi sebesar Rp 2,77 miliar. "Dua hari kemudian, pihak WAE menyerahkan uang 57.500 dolar AS pada tersangka HS di toilet pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan," ujar Saut.

Uang haram kembali dibagi diantara mereka berempat. Yul dapat jatah 14.400 dolar, sedangkan tiga anak buahnya mendapat bagian sama, yakni 13.700 dolar seorang. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top