Suap Proyek BHS

Empat Vice President Angkasa Pura Dipanggil KPK

publicanews - berita politik & hukumGedung KPK. (Foto: Publicanews/dok)
PUBLICANEWS, Jakarta - Sebanyak empat Vice President PT Angkasa Pura (AP) II dipanggil KPK. Mereka dimintai keterangan sebagai saksi untuk koleganya tersangka Direktur Keuangan Andra Y Agussalam.

Agus adalah tersangka kasus dugaan suap proyek sistem penanganan bagasi atau Baggage Handling System (BHS) PT Angkasa Pura Propetindo (APP) yang dilaksanakan oleh PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti).

Keempat saksi adalah Vice President of Corporate Financial Control Mulyadi, Vice President of Proc and Log Asistance Agus Herlambang, Vice President of Legal and Compliance Ivone Cleara, dan Vice President of Human Capital Service Irma Yelly.

"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka AYA," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Selasa (13/8).

KPK menetapkan Andra dan staf PT Inti Taswin Nur sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proyek BHS. Andra selaku penerima suap dan Taswin pemberi suap.

Andra diduga mengarahkan PT APP untuk menunjuk langsung PT Inti sebagai penggarap proyek BHS. Proyek bernilai Rp 86 miliar ini dioperasikan oleh APP, anak perusahaan AP II.

Andra disinyalir telah mengarahkan Executive General Manager Divisi Airport Maintainance Angkasa Pura II Marzuki Battung untuk menyusun spesifikasi teknis. Padahal, berdasarkan penilaian tim teknis APP, harga penawaran PT Inti terlalu mahal.

Andra juga diduga mengarahkan Direktur APP Wisnu Raharjo untuk mempercepat penandatanganan kontrak dengan Inti. Tujuannya, agar DP segera cair sehingga Inti bisa menggunakannya sebagai modal awal.

Andra selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top