Suap Pengurusan Impor Bawang

Ini Kronologi OTT yang Menjerat Politisi PDIP I Nyoman Dhamantra

publicanews - berita politik & hukumBukti uang dan transfer dalam OTT kasus dugaan suap pengurusan izin impor bawang putih ditunjukkan dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (8/8) malam. (Foto: RRI)
PUBLICANEWS, Jakarta - KPK total mengamankan 13 orang dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Jakarta pada Rabu malam hingga Kamis (8/8) dini hari. Pada Rabu, tim awalnya mencokok 11 orang, dua lainnya diamankan setelahnya.

Dua orang terakhir tersebut adalah anggota Komisi VI DPR Fraksi PDI-Perjuangan I Nyoman Dharmantra dan sekretaris Money Changer Indocev, Ulfa. Money changer tersebut milik Dhamantra.

Dari penangkapan Rabu terhadap Mirawati Basri, orang kepercayaan Dhamantra, Tim Penindakan KPK mengamankan uang 50 ribu dolar Amerika Serikat.‎ Sedangkan dari tangan swasta Doddy Wahyudi, disita bukti transfer ke rekening kasir di Money Changer Indocev sebesar Rpn2,1 miliar. 

‎Tim mengamankan kesebelas orang pertama di beberapa lokasi yang berbeda. Adapun Dhamantra 'dijemput' seturun dari pesawat di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, pada Kamis (8/8) pukul 13.30 WIB.

"Setelah menempuh perjalanan dari Bali," kata Ketua KPK Agus Rahardjo dalam konferensi pers di Gedung KPK, kawasan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (8/8) malam. "Kemudian pukul 19.00 WIB, tim mengamankan ULF di kantor Money Changer Indocev di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Barat," Agus menambahkan.

Ke-11 orang pertama yang terjerat OTT pada Rabu adalah Mirawati Basri serta tujuh pihak swasta. Mereka yakni Chandry Suanda alias Afung, Doddy Wahyudi, Elviyanto, Zulfikar, Lalan Sukma, Nino, Syafiq, dan Made Ayu.‎ Sementara dua orang lainnya adalah sopir.

Sebagai pihak pemberi suap, Afung, Doddy, dan Zulfikar disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sebagai pihak penerima suap, I Nyoman Dhamantra, Mirawati, dan Elviyanto ‎disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 UU yang sama. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top