KPK Dalami Pembelian Aset Mewah eks Bupati Rita Widyasari

publicanews - berita politik & hukumMantan Bupati Kukar Rita Widyasari. (Foto: Publicanews/dok)
PUBLICANEWS, Jakarta - Setelah menjerat mantan Bupati Kutai Kertanegara Rita Widyasari dalam kasus suap dan gratifikasi, kini KPK tengah mengincar kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU). Penyidik tengah mendalami kasus TPPU Rita yang dilakukan bersama orang kepercayaannya, yakni Komisaris PT Media Bangun Bersama (MBB) Khairudin.

Hari ini KPK memeriksa wanita penggemar musik rock itu untuk mendalami transaksi perbankan, termasuk penggunaan hasil korupsi untuk pembelian sejumlah barang mewah.

"Termasuk pembelian tas, jam, dan aset lain," kata Febri melalui keterangan tertulisnya, Jumat (19/7).

Sebelumnya KPK telah menyita sejumlah aset milik Rita yang nilainya ditaksir mencapai Rp 70 miliar. Aset-aset tersebut berupa, antara lain, mobil Toyota Vellfire, Ford Everest, dan Land Cruiser hingga dua unit apartemen di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Selain itu, Febri menambahkan, penyidik juga menelusuri aset-aset Rita yang lain yang diduga berasal dari praktik rasuah. KPK meminta masyarakat melapor jika memiliki informasi kepemilikan aset putri yang meneruskan jabatan ayahnya Syaukat Banjaransari itu.

"Sampaikan pada KPK melalui mekanisme pengaduan masyarakat atau menghubungi Call Center KPK 198," ujar Febri.

KPK menetapkan Khairudin dan Rita dalam tiga perkara, pertama menerima fee proyek, perizinan, dan lelang barang dan jasa dari APBD selama menjabat sebagai Bupati Kukar dua periode, yakni 2010-2015 dan 2016-2021.

Dalami TPPU Rita Widyasari, Branch Manager Bank Mandiri Diperiksa

Rita dan Khairudin juga ditetapkan sebagai tersangka suap bersama dengan Direktur Utama PT Sawit Golden Prima Hery Susanto Gun alias Abun. Rita diduga menerima suap Rp 6 miliar dari Abun dalam pemberian izin operasi untuk keperluan inti dan plasma perkebunan kelapa sawit PT Sawit Golden Prima di Desa Kupang Baru, Kecamatan Muara Kaman.

Terakhir, kasus gratifikasi. Rita bersama Khairudin diduga menerima Rp 6,97 miliar dari sejumlah proyek di Kabupaten Kukar.

Pengadilan Tipikor Jakarta telah memvonis Rita dengan 10 tahun penjara dan denda Rp 600 juta susider 6 bulan kurungan pada 6 Juli 2018. Hakim menyatakan alumnus University Malaysia itu menerima gratifikasi Rp 110 miliar bersama Khairudin.

Selain itu, Rita yang kini mendekam di Rutan Pondok Bamabu, Jakarta Timur, terbukti menerima suap Rp 6 miliar dari Direktur Utama PT Sawit Golden Prima Hery Susanto Gun alias Abun. Adapun Khairudin diganjar penjara 9 tahun oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, 23 Oktober 2018. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top