Dianggap Tahu Skandal BLBI, KPK Minta Keterangan Rizal Ramli

publicanews - berita politik & hukumRizal Ramli saat tiba di Gedung KPK untuk menjalani pemeriksaan dalam kasus SKL BLBI untuk Sjamsul Nursalim, Jumat (19/7) pagi. (Foto: Publicanews/Hartati)
PUBLICANEWS, Jakarta - Mantan Menko Ekuin era Presiden Gus Dur sekaligus Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK) Rizal Ramli memenuhi panggilan KPK, Jumat (19/7). Ini merupakan penjadwalan ulang setelah Kamis (11/7) pekan lalu ia tidak bisa datang.

KPK bakal meminta keterangan Rizal sebagai saksi kasus dugaan korupsi dalam penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dengan tersangka Sjamsul Nursalim dan istrinya Itjih Nursalim.

"Hari ini saya dipanggil KPK untuk kasus SKL BLBI dalam kasus ST (Syafruddin Tumenggung) dan SN (Sjamsul Nursalim)," ujar Rizal ketika tiba di Gedung KPK, Jakarta, Jumat pagi.

Rizal menjelaskan, saat SKL untuk Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) milik Sjasul terbit ia sudah bukan Ketua KKSK. Mantan Menko Kemaritiman era Presiden Jokowi itu menduga KPK meminta keterangan lantaran ia dinilai mengetahui sejak awal mengenai BLBI.

"Saya dianggap banyak ngerti, tahu prosedur dari sejak awal BLBI," kata Rizal. "Spesifiknya tentu nanti setelah ditanya-tanya (penyidik), kita bisa ngobrol lagi," ia menambahkan.

Sjamsul dan Itjih diduga melakukan misrepresentasi terkait piutang petambak udang PT Dipasena sebesar Rp 4,8 triliun. Misrepresentasi tersebut telah mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 4,58 triliun. Pasalnya, saat dilakukan Financial Due Dilligence (FDD) dan Legal Due Dilligence (LDD) disimpulkan bahwa aset tersebut tergolong macet dan hanya memiliki hak tagih sebesar Rp 220 miliar.

Atas perbuatan tersebut, keduanya disangka melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top