Mangkir, Jaksa Arih Ginting akan Diperiksa Ulang Besok

publicanews - berita politik & hukumPengacara Alfin Suherman, tersangka penyuap Aspidsus DKI Jakarta, seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (16/7). (Foto: Publicanews/Hartati)
PUBLICANEWS, Jakarta - Jaksa Arih Wira Suranta tak memenuhi panggilan KPK untuk dimintai keterangan sebagai saksi perkara suap yang menjerat Asisten Pidana Umum Kejati DKI Jakarta Agus Winoto. Arih adalah satu dari tiga orang yang dicegah keluar negeri menyusul operasi tangkap tangan terhadap Agus Winoto.

"Pemeriksaan akan dijadwalkan ulang pada Kamis, tanggal 18 Juli 2019," ujar Jubir KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (17/7) malam.

Arih, yang telah dipindahkan ke Kejati Bali, juga satu dari tiga jaksa yang diamankan dalam OTT di Kantor Kejati DKI Jakarta. Ia menjadi jaksa penuntut umum dalam kasus penggelapan dan investasi bodong yang menjerat bos Forex Surabaya Hary Suwanda dan Raymond Rawung di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Kasus inilah yang diduga menjadi pangkal OTT KPK terhadap Agus Winoto pada 28 Juni lalu.

Diketahui KPK telah menetapkan tiga tersangka kasus suap pengurusan perkara penipuan investasi yang sedang diproses di PN Jakarta Barat. Mereka yakni Agus Winoto yang kemudian dipecat, Sendy Perico, dan pengacaranya Alvin Suherman. 

Sendy adalah pengusaha yang sedang berperkara di PN Jakarta Barat. Dia melaporkan pihak lain yang menipu dan melarikan uang investasinya senilai Rp 11 miliar.

Bersama Alvin, Sendy menyiapkan uang suap untuk Jaksa agar memperberat tuntutan kepada pihak yang menipunya. Di tengah proses persidangan, Sendy dan terlapor melakukan perdamaian. Kemudian ia meminta jaksa merendahkan tuntutannya. 

Sendy menyerahkan uang Rp 200 juta kepada Agus Winoto lewat perantara Kasubsi Penuntutan Kejati DKI Jakarta Yadi Herdianto, yang juga kemudian dipecat. Agus adalah pejabat yang berwenang untuk mengurus dokumen damai pada perkara tersebut. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top