OTT Jaksa

Jaksa Agus Winoto Terima Rp 200 Juta untuk Kurangi Tuntutan Perkara

publicanews - berita politik & hukumKPK memperlihatkan barang bukti uang suap dan dokumen perdamaian perkara yang disita dalam OTT terhadap Asdpidum Kejati DKI Jakarta, Sabtu (29/6) malam. (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Satu dari tiga tersangka suap penanganan perkara di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, pengusaha Sendy Perico belum tertangkap. Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif meminta Sendy menyerahkan diri,

Laode mengatakan, kasus ini berawal dari Sendy yang melaporkan pihak lain yang menipu dan melarikan uang investasinya sebesar Rp 11 miliar. Sebelum tuntutan dibacakan di PN Jakarta Barat, Sendy dan pengacaranya Alvin Suherman menyiapkan uang untuk diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU).

"Uang ini diduga ditujukan untuk memperberat tuntutan kepada pihak yang menipunya," kata Laode dalam konferensi pers penetapan tersangka operasi tangkap tangan Asisten Pidana Umum DKI Jakarta Agus Winoto, di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (29/6) malam. Jamintel Kejaksaan Agung Jan S Maringka hadir dalam konpers.

Dalam sidang di PN Jakbar, Sendy dan pihak yang dituntut memutuskan berdamai. Kesepakatan pun dicapai pada 22 Mei 2019, dimana pihak yang dituntut meminta Sendy meringankan tuntutannya menjadi satu tahun penjara.

Pengacara Alvin kemudian melakukan pendekatan kepada JPU melalui perantara. Sang perantara lalu menginformasikan kepada Alvin bahwa JPU berencana menuntut terlapor dengan hukuman dua tahun.

"AVS kemudian diminta menyiapkan uang Rp 200 juta dan dokumen perdamaian, jika ingin tuntutannya berkurang menjadi satu tahun," Laode menjelaskan.

Alvin dan Sendy menyanggupinya dan berjanji menyerahkan syarat-syarat tersebut pada Jumat (28/6). Adapun pembacaan tuntutan akan dilakukan pada Senin (1/7) depan.

"Jumat pagi, SPE (Sendi) menuju sebuah bank dan meminta RSU (Ruskian Suherman) mengantar uang ke AVS (Alvin Suherman) di sebuah pusat perbelanjaan di Kelapa Gading. Kemudian sekitar pukul 11.00 WIB, SSG (Sugiman Sugita) mendatangi AVS di tempat yang sama untuk menyerahkan dokumen perdamaian," kata Laode.

Masih di tempat yang sama, sekitar pukul 12.00 WIB, Laode menambahkan, Ruskian mendatangi Alvin untuk menyerahkan uang Rp 200 juta yang dibungkus dalam sebuah kantong kresek hitam. Selanjutnya Alvin menemui YHE (Yadi Herdianto) di tempat yang sama untuk menyerahkan uang dan dokumen perdamaian.

Setelah menerima uang Rp 200 juta, dengan menggunakan taksi Yadi menemui Aspidum Agus Winoto di Kejati Jakarta. "Uang diduga diberikan kepada AGW sebagai Aspidum yang memiliki kewenangan untuk menyetujui rencana penuntutan dalam kasus ini," ujar Laode.

Pada saat menerima uang dari perantara Yadi itulah KPK melakukan tangkap tangan. Agus sempat 'diambil' oleh Kejaksaan Agung. Namun KPK memintanya kembali. Jaksa Agung Muda Intelijen Kejagung Jan S Maringka kemudian mengantarkan Agus ke KPK pada Sabtu (29/6) pukul 01.00 WIB.

KPK menjerat Agus Winoto sebagai terduga penerima suap dengan Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11‎ Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan sebagai pemberi suap, Alvin dan Sendy, disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top