Gratifikasi Bowo Sidik

Sofyan Basir Diduga Cawe-cawe Posisi di PLN

publicanews - berita politik & hukumSofyan Basir usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Kamis (27/6) malam, dalam kasus gratifikasi Bowo Sidik Pangarso. (Foto: Publicanews/Hartati)
PUBLICANEWS, Jakarta - Penyidik KPK mengonfirmasi kepada Sofyan Basir soal sumber gratifikasi yang diterima tersangka anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso. Diduga total gratifikasi Rp 8 miliar yang didapat Bowo salah satunya dari Perusahaan Listrik Negara (PLN).

"Tentu yang didalami adalah pengetahuan di PLN yang dalam posisi dia sebagai Direktur Utama PLN. Apa yang dia ketahui terkait dengan sumber-sumber gratifikasi BSP ini," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (27/6).

Namun Febri tidak menyebut siapa pemberi gratifikasi dan jabatannya di BUMN yang dibantu Bowo. Ia beralasan soal itu sudah masuk ranah penyidikan kasus suap dan gratifikasi Bowo.

"Itu terkait dengan posisi seseorang di BUMN. Nanti kami akan memberikan (informasi) karena masih cukup banyak ya, masih cukup panjang. Karena dugaan penerimaan gratifikasi ini kan perlu kami telusuri lebih lanjut." ujar Febri.

Sofyan seusai pemeriksaaan kemarin malam membantah cawe-cawe jabatan di PLN, yang diduga melibatkan Bowo. Mantan Dirut Bank BRI itu mengaku tidak mengenal politisi Partai Golkar tersebut. Terlebih PLN juga tidak bermitra dengan Komisi VI DPR.

"Enggak dong, kan kita Komisi VII," ujar tersangka kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1 itu. Maksudnya, PLN adalah mitra kerja Komisi VII, sedangkan Bowo di Komisi VI.

Bowo diamankan dalam OTT dengan dugaan menerima suap dalam kerja sama pengapalan pupuk antara PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) dan PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK).

Penyidik menduga Bowo Sidik meminta fee 2 dolar AS per metrik ton atas biaya angkut kepada HTK. Diduga, Bowo Sidik telah menerima tujuh kali hadiah atau suap dari Humpuss, yakni sekitar Rp 1,5 miliar dan Rp 89,4 juta yang diamankan saat OTT.

Adapun total uang suap dan gratifikasi yang diterima Bowo Sidik dari Humpuss maupun pihak lainnya sekitar Rp 8 miliar. Uang tersebut sudah dimasukkan ke dalam 400 ribu amplop yang disimpan dalam 84 kardus.

KPK mengidentifikasi penerimaan gratifikasi Bowo dari pengaturan atau kebijakan tentang gula kristal rafinasi, penganggaran DAK, petinggi salah satu BUMN, pengurusan anggaran revitalisasi pasar di Minahasa Selatan, dan anggaran untuk Kabupaten Kepulauan Meranti. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top