Suap Pengapalan Pupuk

Lima Kali Petinggi Humpuss Gelontorkan Uang ke Bowo Sidik

publicanews - berita politik & hukumGM Komersial PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Asty Winasty menjalani sidang dakwaan dugaan penyuapan Bowo Sidik Pangarso di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (19/6). (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Jaksa Penuntut Umum KPK mendakwa General Manager Commercial PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Asty Winasti menyuap anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso. Menurut Jaksa Kiki Ahmad Yani, Asty memberi 158,777 dolar AS dan Rp 311.022.932 sebagai imbalan atas kerja sama pengapalan pupuk antara PT Pupuk Logistik Indonesia (Pilog) menggunakan kapal HTK.

Jaksa Kiki mengatakan, Asty memberikan uang karena HTK kembali mendapatkan kontrak proyek pengapalan pupuk perusahaan BUMN tersebut.

"Memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara, yaitu Bowo Sidik Pangarso, dengan maksud supaya berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya," kata Jaksa Kiki di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (19/6).

HTK merupakan perusahaan yang mengelola kapal MT Griya Borneo. Perusahaan ini sebelumnya memiliki kontrak kerja sama dengan anak perusahaan PT Petrokimia Gresik, yakni PT Kopindo Cipta Sejahtera (KCS), untuk pengangkutan amonia dalam jangka waktu 5 tahun.

Pada 2015, Jaksa Kiki menambahkan, dibentuk perusahaan induk yang menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam bidang pupuk, yaitu PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC). Kontrak kerja sama HTK pun diputus dan pengangkutan amonia dialihkan ke anak perusahaan PIHC, yaitu Pilog, menggunakan kapal MT Pupuk Indonesia.

Atas pemutusan kontrak tersebut, HTK keberatan. Asty kemudian diminta Taufik untuk mencari solusi atas permasalahan ini.

Asty kemudian menghubungi pemilik PT Tiga Macan Steven Wang yang kemudian menyarankannya untuk berbicara dengan Bowo Sidik. Mereka akhirnya bertemu dengan Bowo di sebuah restoran di Jakarta. Di sana, Asty menyampaikan keinginannya agar Pilog menggunakan kapal MT Griya Borneo yang dikelola HTK.

"Sedangkan kapal milik PT Pilog, yaitu MT Pupuk Indonesia, akan dicarikan pasarnya oleh terdakwa. Atas permintaan terdakwa, Bowo Sidik bersedia membantu," Kiki menjelaskan.

Sejak saat itu Bowo melakukan sejumlah pertemuan dengan pihak PIHC untuk membatalkan pemutusan kontrak HTK dan KCS, agar kapal MT Griyo Borneo bisa digunakan kembali. Pihak PIHC yang ditemui Bowo adalah Direkur Utama Aas Sadikin Idat dan Direktur Pemasaran Achmad Tossin Sutawikara.

Awal Desember 2017, Bowo bersama Asty bertemu dengan Taufik, Asikin, dan Tossin. Kemudian ada pula General Manager Finance HTK Mashud Masjono dan Komisaris Theo Lekatompessy. Bowo mendorong agar kerja sama sewa kapal HTK dan Pilog dilanjutkan. Kedua perusahaan pun setuju.

Atas perintah, Taufik selanjutnya Asty memberikan uang ke Bowo secara bertahap, ada lima kali pengiriman uang. Pertama 1 Oktober 2018 sebesar Rp 221 juta lebih di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Selanjutnya, 1 November 2018 sebesar 59.587 dolar AS di Coffee Lounge Hotel Grand Melia.

Pada 20 Desember 2018, Asty kembali memberi 21.327 dolar di Coffee Lounge Hotel Grand Melia. Kemudian pada 26 Februari 2018 di kantor HTK sebesar 7.819 dol. Pemberian terakhir, 27 Maret 2019 sebesar Rp 89.449.000 di kantor HTK.

Atas perbuatannya Asty didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana, Pasal 64 ayat (1) KUHPidana. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top