Korupsi Proyek IPDN

KPK Panggil Tiga Pengusaha Untuk Kasus Dudy Jocom

publicanews - berita politik & hukumMantan Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Setjen Kementerian Dalam Negeri Dudy Jocom. (Foto: Publicanews/dok)
PUBLICANEWS, Jakarta - Direktur Utama PT Kredo Keramindo Sejahtera Wicky Leonardi dimintai keterangan oleh KPK sebagai saksi kasus dugaan korupsi pembangunan gedung Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Turut dipanggil Direktur PT Cipta Beton Sinar Perkasa Eddy Salim dan swasta bernama P Wisvanathan.

"Yang bersangkutan akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka DJ (mantan Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Setjen Kementerian Dalam Negeri Dudy Jocom)," kata Jubir KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (13/6).

Dudy Jocom kembali ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan kampus IPDN di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. KPK juga menetapkan dua tersangka dari PT Waskita Karya, yakni Kepala Divisi Gedung atau Kepala Divisi I Adi Wibowo dan Kepala Divisi Konstruksi VI Dono Purwoko.

Direktur Operasional Waskita Karya Diperiksa untuk Korupsi IPDN

KPK menduga Dudy melalui kenalannya menghubungi beberapa kontraktor untuk mengerjakan proyek Kampus IPDN. Mereka menggelar pertemuan di sebuah kafe di dan menyepakati soal pembagian proyek. Kampus IPDN di Gowa, Sulsel, digarap Waskita Karya, sementara PT Adhi Karya memegang proyek di Minahasa, Sulut. Dudy Jocom cs diduga meminta imbalan 7 persen dari setiap proyek itu.

Negara diduga mengalami kerugian sekitar Rp 21 miliar berdasarkan kekurangan pekerjaan pada kedua proyek tersebut. Rinciannya, pembanungan Kampus Gowa merugi Rp 11,18 miliar, dan Rp 9,378 miliar untuk kampus di Minahasa.

Dudy Adi Wibowo, dan Dono Purwoko disangkakan melanggar Pasal 2 Ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top