Suap Proyek Satelit Bakamla

KPK Panggil Dua Pegawai Rohde & Schwarz Untuk Kasus Bakamla

publicanews - berita politik & hukumManaging Director PT Rohde & Schwarz Indonesia Erwin Sya'af Arief seusai pemeriksaan di KPK, Jakarta, beberapa waktu lalu. (Foto: PT. Dynamo Media Network)
PUBLICANEWS, Jakarta - Dua pegawai PT Rohde and Schwarz Indonesia dipanggil KPK untuk melengkapi berkas kasus suap pengadaan satelit monitoring di Badan Keamanan Laut Bakamla (Bakamla). Kedua saksi tersebut yakni Renno Haryo dan Edwin Djaya.

"Keduanya diperiksa untuk tersangka EA (Managing Director Rohde Erwin Sya'af Arief)," ujar Juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Selasa (11/6).

Erwin adalah tersangka suap kepada pejabat Bakamla. Ia menjadi perantara antara mantan anggota Komisi I DPR Fayakhun dan bos PT Merial Esa Fahmi Darmawansyah. Kedua orang tersebut sudah menjalani pidananya.

Febri mengatakan, Erwin diduga secara bersama-sama atau membantu memberi atau menjanjikan sesuatu kepada penyelenggara negara dalam proses pembahasan dan pengesahan RKA K/L dalam APBNP 2016 untuk Bakamla.

Penyidik KPK menemukan bukti Erwin mengirimkan rekening yang digunakan untuk menerima suap dan bukti transfer dari Fahmi ke Fayakhun sebesar 911.480 juta dolar AS (sekitar Rp 12 miliar). Uang dikirim 4 kali melalui rekening di Singapura dan Guangzhou, Tiongkok.

Managing Director Rohde & Scharz Tersangka Baru Proyek Bakamla

Uang suap tersebut adalah fee atas penambahan anggaran untuk Bakamla pada APBNP 2016 sebesar Rp 1,5 triliun. Peran Fayakhun dalam perkara itu adalah mengawal agar anggaran di DPR.

PT Rohde & Schwarz Indonesia berkepnetingan dana Bakamla disetujui DPR karena satelit monitoring tersebut produksi mereka.

Atas perbuatannva tersebut, Erwin disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal S ayat (1) huruf b atau pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2011 juncto pasal 55 ayat (1) ke-l KUHP atau Pasal 56 KUHP.

Dalam kasus ini, KPK telah menjerat juga telah menjerat dua anak buahnya Fahmi, yakni Hardy Stefanus dan Muhammad Adami Okta. Kemudian pejabat Bakamla Eko Susilo Hadi dan Nofel Hasan. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top