Bupati Talaud Sebut Tas Mewah Bukan Suap, Tapi Ungkapan Simpati

publicanews - berita politik & hukumBupati Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip seusai diperiksa dalam kasus suap revitalisasi pasar, di Gedung KPK, Jumat (17/5) sore. (Foto: Publicanews/Hartati)
PUBLICANEWS, Jakarta - Bupati nonaktif Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip membantah tas Hermes miliknya pemberian pengusaha Bernard Hanafi Kalalo. Ia menyatakan tidak ada kaitan antara barang mewah miliknya dengan proyek revitalisasi pasar yang dituduhkan KPK.

Sri Manalip menyebut pemberian tersebut sebagai rasa simpati Bernard bekerja sama dengannya.

"Dia senang dengan saya. Senang, bukan suka. Jadi bedakan senang dengan suka. Lagian itu enggak ada kaitannya dengan jabatan saya," kata Sri Manalip seusai pemeriksaannya di lobi Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (17/5).

Bupati cantik itu menuding penangkapan dan penetapannya sebagai tersangkanya sebagai pembunuhan karakter. Ia berkelit barang bukti yang disita penyidik KPK bukan dari tangannya.

"Saya tidak pernah memegang barang bukti, barang bukti pun tidak ada. (Tiba-tiba) saya dibawa ke sini (KPK)," ujar Bupati yang pernah memerintahkan mengibarkan bendera Filipina sebagai protes atas tidak adanya perhatian pemerintah terhadap wilayahnya.

KPK menetapkan Sri Manalip bersama timsesnya Benhur Lalenoh dan pengusaha Bernard Kalalo ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengadaan barang dan jasa tahun anggaran 2019.

Tiba di KPK, Bupati Sri Wahyumi Bantah Terima Barang Mewah

Istri hakim Pengadilan Tinggi Manado Armindo Pardede itu diduga meminta Benhur mencarikan kontraktor yang bersedia menggarap proyek di Pemkab Kepualauan Talaud, Sulawesi Utara, dengan catatan mau memberikan fee 10 persen. Benhur lantas menghubungi Bernard.

KPK menduga Bernard memberikan fee dalam bentuk barang mewah sesuai permintaan Sri Manalip. Misalnya, tas tangan Chanel senilai Rp 97.360.000, tas Balenciaga seharga Rp 32.995.00, dan jam tangan Rolex berbanderol Rp 224.500.000.

Kemudian, anting berlian Adelle bernilai Rp 32.075.000 dan cincin berlian Rp 76.925.000. Terakhir uang tunai Rp 50 juta.

Suap berkaitan dengan dua proyek revitalisasi Pasar Lirung dan Pasar Beo. Diduga, terdapat proyek-proyek lain yang dibicarakan oleh ketiga orang tersebut.

Penyidik menjerat Sri Manalip dan Benhur dengan Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan Bernard selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top