Terkendala Bahasa Inggris, Berkas Kasus Emirsyah Satar Akhirnya Rampung

publicanews - berita politik & hukumMantan Dirut PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar (kiri) seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta. (Foto: Publicanews/dok)
PUBLICANEWS, Jakarta - Berkas penyidikan kasus dugaan suap pengadaan 50 unit pesawat Garuda Indonesia dengan tersangka Emirsyah Satar dan bos RMA Soetikno Soedarjo telah rampung. Wakil Ketua KPK Laode M Syarif mengatakan, penyidik tinggal melimpahkan berkas tersebut ke penuntutan.

"Kalau Garuda sih itu sudah selesai, tinggal pelimpahan saja. Jadi itu saya anggap selesai (kasus) Garuda," ujar Laode di Gedung C1 KPK, Jakarta Selatan, Rabu (15/5).

Laode menjelaskan, penyidikan kasus ini sempat mandek karena sejumlah bukti-bukti yang dimiliki KPK berbahasa Inggris an tebal. "Kalau bahasa Indonesia sudah lama jadi," ia menambahkan.

Selain barang bukti dokumen berbahasa asing, KPK juga melakukan kerja sama dengan Chief Financial Officer (CFO) dan Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB) atau Biro Investigasi Praktik Korupsi Singapura.

"Jadi harus diterjemahkan bukti-buktinya itu, kan ini investigasi bersama CFO dan CPIB Singapura," kata Laode.

Dapatkan Dokumen dari 'KPK Inggris', KPK Segera Tuntaskan Kasus Emirsyah Satar

Molornya penanganan kasus ini, ujar Laode, juga menjadi alasan kenapa Dirut PT Garuda Indonesia 2005-2015 itu dan pemilik PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno belum ditahan.

"Kenapa enggak ditahan? Kan ada batas waktu penahanan, kan enggak boleh lebih dari waktu tertentu, bagaimana kalau berkasnya belum selesai?" Loade menjelaskan.

Dalam kasus pembelian 50 unit pesawat Airbus A330-200 bermesin Rolls-Royce itu, KPK menduga Emir menerima sejumlah uang dan barang dari Soetikno, pemilik atau benefical owner Connaught International Pte Ltd. Perusahaan ini menjadi perantara pihak Rolls-Royce di Indonesia.

KPK menduga Emir menerima suap 2 juta dollar AS dan aset senilai 2 juta dollar AS dari Rolls-Royce melalui Connaught. Aset-aset tersebut tersebar di Singapura dan Indonesia. KPk telah menyita sejumlah aset Emir, antara lain rumah di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, seharga Rp 8,5 miliar. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top