Suap Proyek PLTU Riau-1

Eni Saragih Ngaku Diperintah Mekeng Lobi ke ESDM

publicanews - berita politik & hukumEni Saragih dalam sidang kasus suap proyek PLTU Riau-1 di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (2/1). (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Ketua Fraksi Partai Golkar Melchias Marcus Mekeng disebut dalam sidang eks anggota Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih di Pengadilan Tipikor Jakarta. Mekeng memperkenalkan Eni dengan Samin Tan, pemilik PT Borneo Lumbung Energi & Metal.

Buntut dari perkenalan itu adalah aliran dana sebesar Rp 5 miliar dari Samin Tan kepada Eni. Uang diberikan taipan itu melalui Nenie Afwani dan diteruskan ke staf Eni Saragih bernama Tahta Maharaya.

Uang gratifikasi itu dimaksudkan agar Eni menjembatani dengan Kementerian ESDM. Pasalnya, PT Asmin Kolaindo Tuhup (AKT), anak perusahaan PT Borneo Lumbung Energi & Metal, diputus dalam Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) Generasi 3 di Kalimantan Tengah.

"Pak Samin Tan punya kenalan atau ini (Mekeng), saya diperkenalkan dengan Bu Eni," ujar Nenie saat bersaksi dalam sidang dengan terdakwa Eni, Rabu (2/1).

Samin yang ikut dihadirkan dalam sidang mengatakan, ia mengenal Mekeng sebagai kawan lama. Saat itu ia meminta dikenalkan kepada anggota DPR yang mengurusi pertambangan.

"Saya diminta ketemu beliau (Eni) di kantor Pak Mekeng. Kemudian dikenalkan dengan Bu Eni," Samin menjelaskan.

Hal itu dibenarkan Eni. "Memang untuk membantu PT AKT, saya diperintah oleh Ketua Fraksi saya, Bapak Mekeng, di Partai Golkar," ujar Eni.

Menurutnya, ia hanya membantu PT AKT berkomunikasi dengan Kementerian ESDM. Eni berdalih itu kewajibannya sebagai anggota DPR. Bahkan ia menyebut banyak perusahaan lain serupa dengan AKT.

"Tapi tidak berarti saya ikut campur ESDM, cuma menanyakan itu kepada pihak ESDM," Eni berusaha meyakinkan.

Namun, dalam sidang tidak disebutkan apakah ada aliran dana masuk ke kantong Mekeng.

Dalam surat dakwaan Jaksa KPK untuk politisi Partai Golkar itu, selain dari Samin, Eni juga menerima uang dari sejumlah direktur perusahaan di bidang minyak dan gas.

Total pemberian yang diterima Eni adalah Rp 5,6 miliar dan 40 ribu dolar Singapura. uang tersebut digunakan untuk kepentingan suaminya Muhammad Al Khadziq yang mengikuti pemilihan Bupati Temanggung 2018.

Dalam sidang ini, Eni juga didakwa menerima suap berkaitan dengan proyek PLTU Riau-1 dari pemilik BlackGold Natural Resources Limited Johanes Budisutrisno Kotjo sebesar Rp 4,74 miliar.

Suap dimaksudkan agar proyek PLTU Riau-1 itu bisa digarap PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PT PJBI), BlackGold, dan China Huadian Engineering Company yang dibawa oleh Kotjo.

Eni yang ditangkap di rumah Menteri Sosial Idrus Marham didakwa dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 UU Pemberantasan Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke 1 dan pasal 64 ayat 1 KUHP.

Selain itu, Eni juga didakwa melanggar pasal 12B ayat 1 UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah UU Nomor 20 tahun 2001 juncto Pasal 65 ayat 1 KUHP. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top