Jual Beli Sel Mewah

Bilik Cinta Fahmi-Inneke di Lapas Sukamiskin Berukuran 2x3 Meter

publicanews - berita politik & hukumFahmi-Inneke Koesherwati. (Foto: Istimewa)
PUBLICANEWS, Jakarta - Jaksa KPK mengungkap berbagai fasilitas mewah bagi napi di Lapas Sukamiskin, Bandung. Salah satunya ada ruangan khusus berukuran 2x3 meter yang dilengkapi tempat tidur. 'Bilik cinta' itu dibangun terpidana kasus suap Badan Keamanan Laut (Bakamla) Fahmi Darmansyah.

"Ruangan itu digunakan untuk melakukan hubungan badan suami-istri," ujar Jaksa Trimulyono Hendradi saat membacakan surat dakwaan eks Kalapas Sukamiskin Wahdi Husen, di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Rabu (5/12).

Jaksa mengatakan ruang itu secara khusus digunakan Fahmi saat dikunjungi istrinya Inneke Koesherawati. Bahkan, ruang tersebut juga disewakan kepada warga binaan lainnya dengan tarif Rp 650 ribu.

Menurut Jaksa, terdakwa Wahid dengan sengaja membiarkan Fahmi untuk mengelola kebutuhan para warga binaan di Lapas yang dipimpinnya.

Upaya 'membisniskan' beragam fasilitas penjara telah dilakukan terdakwa sejak dilantik pada 13 Maret 2018. Menurut jaksa, terdakwa Wahid berkoordinasi dengan staf kepercayaannya Hendry Saputra dan Andri yang merupakan napi kasus pidana umum yang berstatus tahanan pendamping.

Wahid juga berkoordinasi dengan tiga napi koordinator paguyuban napi Lapas Sukamiskin, yaitu Djoko Susilo, Fahmi Dharmawansyah, dan Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan.

Sejak saat itu, warga binaan diperbolehkan menambahkan fasilitas di ruang sel seperti AC, televisi, dan ponsel. Kemudahan juga diberikan dalam ijin keluar, baik itu izin luar biasa (ILB) maupun izin berobat.

"Terdakwa melalui Hendry Saputra dan Andri menerima sejumlah hadiah berupa barang dan uang dari warga binaan Lapas Sukamiskin," kata jaksa KPK.

Wahid didakwa menerima suap dari Fahmi berupa satu unit mobil double cabin Mitsubishi Triton, sepasang sepatu boot, sepasang sandal merek Kenzo, tas merek Louis Vuitton, dan uang Rp 39,5 juta.

Wahid juga disebut menerima uang total Rp 63,39 juta dari TB Chaeri Wardana alias Wawan. Terpidana eks Bupati Bangkalan Fuad Amin menyuapnya Rp 71 juta, pinjaman mobil, serta dibiayai penginapan di hotel di Surabaya.

Dalam sidang ini, Wahid dijerat dengan dua dakwaan, yakni suap dan gratifikasi yang membuatnya terancam hukuman 20 tahun penjara.

Jaksa mendakwa Wahid melanggar Pasal 12 huruf b Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tipikor sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Selain itu juga Pasal 11 huruf b Undang-undang nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tipikor sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Seperti diketahui, Wahid terkena operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK pada 21 Juli 2018. Saat itu, KPK mengamankan dua unit mobil Mitsubishi Triton Exceed warna hitam dan Mitsubishi Pajero Sport Dakkar warna hitam. Ikut disita uang tunai dengan total Rp 279.920.000 dan 1.410 dolar Amerika Serikat. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top