Suap Pembahasan APBD Jambi

Zumi Zola Ketakutan Sudah Tahu Bakal Ada OTT

publicanews - berita politik & hukumZumi Zola menangis di Pengadilan Tipikor Jakarta. (Foto: Screenshoot/YouTube)
PUBLICANEWS, Jakarta - Gubernur nonaktif Jambi Zumi Zola sudah mengetahui akan ada operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Kekhawatiran tersebut diutarakannnya kepada Ketua DPRD Jambi Cornelis Buston.

Hal itu disampaikan Cornelis saat menjadi saksi sidang dengan terdakwa Zumi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (20/9).

Menurut Cornelis, percakapannya dengan Zumi terjadi sebelum pembahasan pengesahan APBD-P 2017. “Pak Gubernur kaget. Dia bilang, saya takut sekali pak ketua, lah saya juga takut pak gubernur,” kata politikus Partai Demokrat itu.

Cornelis menambahkan, Zumi ditelepon Korsupgah atau bagian pencegahan KPK bahwa akan ada OTT di DPRD Provinsi Jambi.

Namun, apa yang ditakutkan itu menjadi kenyataan. Cornelis mengatakan, suap terjadi karena anggota DPRD mengancam tidak akan hadir bila tidak ada uang ketok palu.

Ia menyebut tekanan itu, salah satunyu, datang dari anggota Fraksi PDI-P Zainal Arfan yang mengancam tidak datang dan akan walk out. "Saya khawatir mereka (anggota lain) dihasut dan tak kuorum," Cornelis menuturkan.

Kondisi itu membuat Cornelis mencari solusi. Pasalnya, bila tidak ada pengesahan sebelum 30 November 2017, maka DPRD akan kena sanksi dari Kemendagri, yaitu tidak digaji selama 6 bulan.

Cornelis kemudian melalui anggota Banggar DPRD Kusnidar menghubungi Asisten Daerah III Provinsi Jambi Saipudin untuk mengusahakan 'uang ketok palu'.

Uang pun berhasil dikumpulan dari para kontraktor dan rekanan pada Dinas PUPR Jambi.

Uang tersebut digunakan untuk memuluskan persetujuan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Jambi Tahun Anggaran (TA) 2017 menjadi Peraturan Daerah APBD 2017.

Kemudian, uang ketok palu juga terjadi saat pengesahan Raperda APBD 2018 menjadi Perda APBD 2018. Dalam kasus ini, Zumi Zola didakwa menyuap 53 anggota DPRD Jambi senilai total Rp 16,5 miliar.

Operasi senyap KPK itu terjadi pada 28 November 2017, di Restoran Bebek Goreng Pak Endut, di bilangan Kebun Jeruk, Sipin, Telanaipura, Kota Jambi. Tim penindakan KPK menangkap Saipudin yang membawa uang tunai Rp 400 juta. Pengembangan saat itu akhirnya terkumpul uang suap senilai Rp 4,7 miliar. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top