Setya Novanto Bernyanyi Siap Bongkar Skandal Century

publicanews - berita politik & hukumSetya Novanto saat menjadi terdakwa kasus megakorupsi proyek e-KTP di Pengadilan Tipikor, 14 Maret 2018. (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Skandal dugaan tindak pencucian uang Bank Century kembali mencuat. Terpidana kasus megakorupsi proyek e-KTP Setya Novanto mengaku punya bukti kuat megaskandal yang terjadi di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.

Ditemui di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (14/9), mantan Ketua DPR itu mengatakan akan membantu KPK menuntaskan kasus Century.

"Kalau Century, memang saya kebetulan ketua fraksi saat itu," kata Novanto yang hadir di Pengadilan Tipikor untuk menjadi saksi keponakannya Irvanto Hendra Pambudi Cahyo dan kolega bisnisnya Made Oka Masagung.

"Ya, tentunya saya punya data dan fakta akurat yang bisa saya berikan. Nanti saya akan ungkap sejelasnya di KPK. (Buktinya) sangat kuat," ia menambahkan.

Bahkan, pria yang akrab disapa Setnov ini mengatakan, kasus Century sudah mulai terkuak. "Ini kan sebenarnya uratnya sudah kelihatan. Nanti saya akan ungkap sejelasnya di KPK nanti," ujar Novanto yang kini juga tengah diselidiki KPK dalam dugaan menekan mantan anak buahnya, Eni Maulani Saragih, dalam kasus suap proyek PLTU Riau-1.

Kasus Century telah menyeret Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya yang dipidana 15 tahun. KPK pun menjanjikan akan melanjutkan penanganan kasus itu.

Kasus Bank Century kembali menjadi berbincangan setelah Asia Sentinal membuat artikel bersumber pada laporan gugatan Weston Capital Internasional ke Mahkamah Agung Mauritius. Weston mengklaim sebagai korban dalam permainan kotor perbankan tersebut.

Artikel itu berjudul 'Indonesia's SBY Governmant: Vast Criminal Conspiracy', ditulis oleh pendiri Asia Sentinel, John Berthelsen. Ia menyebut Bank Century menjadi tempat penjarahan dan perampokan uang negara dengan merekayasa sebagai bank gagal pada 2008.

John mengatakan kasus itu melibatkan institusi LPS, OJK, 30 pejabat Indonesia hingga SBY. Kerugian uang negara mencapai 12 miliar dolar AS atau setara Rp 170 triliun. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top