Suap Proyek PLTU Riau-1

Soal Uang Rp 2 Miliar, Novanto Sebut Terjadi Bukan di Eranya

publicanews - berita politik & hukumSetya Novanto usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (28/8) sore. (Foto: Publicanews/Hartati)
PUBLICANEWS, Jakarta - Mantan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto membantah keterangan kader Golkar Eni Maulani Saragih yang mengungkapkan sebagai petugas partai ia diminta untuk mengawal proyek PLTU Riau-1.

"Wah enggak, saya udah masuk (Sukamiskin). Saya enggak tahu," ujar Novanto usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Selasa (28/8).

Ia juga menyatakan pembahasan proyek beranggaran 900 juta dolar AS itu terjadi bukan saat ia masih menjabat Ketua DPR maupun Ketum Golkar. "Enggak ada," katanya.

Begitu pula soal uang Rp 2 miliar yang disebut Eni mengalir ke Golkar, Novanto mengatakan hal itu terjadi pasca ia menanggalkan jabatannya karena tersandung kasus megakorupsi proyek e-KTP.

"Nggak. Itu jamannya pas Munaslub itu," ujar Novanto. Munaslub Golkar pada Desember 2017 mengangkat Airlangga Hartarto menjadi Ketua Umum menggantikan Novanto yang tersangkut kasus proyek e-KTP.

Dalam kasus rasuah dalam proyek PLTU Riau-1 ini, dua politisi Golkar Eni saragih dan eks Sekjen Idrus Marham disebut menerima uang dari pemilik Blackgold Natural Resources Limited Johannes B Kotjo. Uang diberikan agar perusahan milik Kotjo diloloskan untuk menggarap proyek beranggaran 900 juta dolar AS ini.

Uang yang dijanjikan Kotjo kepada keduanya pun berbeda. Idrus diduga dijanjikan 1,5 juta dolar AS sementara Eni Rp 4,8 miliar.

Eni menyebut sebagai petugas partai ia diminta untuk mengawal proyek ini. Tak hanya itu, Eni juga mengaku uang dari Kotjo sebesar Rp 2 miliar mengalir ke Munaslub Golkar. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top