Korupsi Pembelian Helikopter

Usai Diperiksa KPK, Eks KSAU: Jangan Gaduh

publicanews - berita politik & hukumMantan KSAU Marsekal (Purn) Agus Supriatna seusai diperiksa penyidik KPK, Rabu (3/1) siang. (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal (Purn) Agus Supriatna mengatakan bahwa ia tidak bisa sembarangan mengeluarkan pernyataan soal bekas institusinya. Ia menegaskan selalu menjunjung tinggi Sumpah Prajurit, seperti tertuang dalam butir kelima, yakni akan menjaga segala rahasia tentara sekeras-kerasnya.

Untuk itu, pensiunan jenderal bintang empat itu enggan membuka materi pemeriksaan penyidik KPK. Agus diperiksa sebagai saksi bagi Direktur Utama PT Diratama Jaya Mandiri Irfan Kurnia Saleh. Irfan adalah tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan Helikopter Augusta Westland (AW) 101 milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU).

"Eit, jangan bicara sama saya. Yang mengatakan adanya dugaan korupsi, ada institusinya. Enggak boleh saya. Enggak ada," ujarnya seusai diperiksa di Gedung KPK, kawasan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (3/1).

Ia meminta awak media tidak membuat gaduh dalam pemberitaan kasus pembelian helikopter ini. "Jadi, saya minta ke teman-teman, yang penting permasalahan ini jangan sampai dibuat gaduh. Jangan gaduh masalah ini," katanya.

Dalam pembelian helikopter produksi join venture Italia dan Inggris ini Irfan telah meneken kontrak senilai 39,3 juta dolar AS, sekitar Rp 514 miliar, sebelum lelang. Namun, saat perusahaannya memenangkan tender pada Juli 2016, Irfan menyodorkan harga heli tersebut menjadi Rp 738 miliar.

Saat perjanjian kontrak itu berjalan, Agus masih menjabat sebagai KSAU. Dalam hitungan KPK, negara dirugikan sekitar Rp 224 miliar. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top