Polisi Usut Mafia Tanah Melibatkan Perangkat Desa di Bengkulu

publicanews - berita politik & hukumPolisi menangkap dua dari empat tersangka dalam kasus mafia tanah di Lebong, Bengkulu. (Foto: sahabatrakyat.com)
PUBLICANEWS, Bengkulu - Jajaran Reskrimum Polda Bengkulu mengusut kasus mafia tanah di desa Talang Ratu, Rimbo Pengadang, Lebong. SU (54), SN (38), UP, dan SN diamankan atas dugaan praktik mafia tanah seluas 44 hektar milik tiga warga Lebong.

"Kita akan bongkar semua praktik mafia tanah hingga ke akar-akarnya. Sesuai instruksi Kapolri, terkait implementasi Satgas Mafia Tanah," kata Direktur Reskrimum Kombes Teddy Suhendyawan Syarif kepada wartawan di kantornya, Jumat (7/5).

Teddy menegaskan siapapun untuk tidak coba main-main tanah. Masyarakat dipersilakan melaporkan soal praktik mafia tanah.

"Pasti ditindaklanjuti. Kita sudah buktikan bulan Maret lalu," ujarnya.

Lahan tersebut diserobot SN (38), warga Rimbo Pengadang, hanya berdasarkan surat hibah ayahnya M. Rais, tertanggal 20 Oktober 2020 sedangkan Rais meninggal pada 2017.

Oknum perangkat desa dan kecamatan diduga terlibat. Oleh SN (38), tanah tersebut kemudian dijual ke PT Ketaun Hidro Energi (KHE) untuk pembangunan proyek listrik. Januari lalu, PT KHE bersama Kantor Pertanahan Lebong mengukur paksa tanah tersebut.

Polda Bengkulu telah memanggil pimpinan PT KHE dan mengumpulkan barang bukti. Penyidik juga akan memanggil pemilik tanah dan pihak-pihak terlibat. "Makanya harus gelar perkara. Dari situ dianalisa. Baru diketahui modus operandinya seperti apa," kata Teddy.

Keempat tersangka dijerat pasal 170 KUHP dan pasal 385 KUHP JO pasal 54, 56 KUHP. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top