Eks Napiter Sebut Banyak Tren Baru dalam Aksi Terorisme

publicanews - berita politik & hukumMantan narapidana kasus terorisme Yudi Zulfahri mengunjungi Lapas Cilegon, Baten, Kamis (29/4). (Foto: istimewa)
PUBLICANEWS, Cilegon - Mantan narapidana kasus terorisme (napiter) Yudi Zulfahri menilai ada tren baru dalam asi terorisme sekarang. Yakni serangan dilakukan secara berdekatan, misalnya bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar lalu disusul serangan ke Mabes Polri.

"Terjadi berulangkali sejak tahun 2010. Itulah wajah baru terorisme di Indonesia," ujar ASN jebolan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) di Lapas Cilegon, Banten, kemarin. Ia ke Cilegon menemui napiter MA (38).

Berbeda dengan jamannya, saat itu pengeboman berjarak sekitar satu hingga tiga tahun sekali. "Kalau sekarang dalam beberapa hari bisa terjadi berulang kali. Kenapa bisa seperti itu, ini yang jadi pertanyaan," kata Yudi.

Selain itu, kini pelaku teror tak perlu lagi bergabung dengan organisasi teroris. Namun cukup meyakini sebuah ideologi radikal atau terorisme, dan serangan pun bisa dilakukan. "Mereka bergerak seorang diri, nah ini bedanya," ia menambahkan.

Ideologi yang dianut saat ini pun dipandang Yudi berbeda. Kini, para teroris lebih ekstrem. Lalu ada Selain itu keterlibatan perempuan yang kian meningkat.

Lulusan magister Universitas Indonesia ini berpandangan perempuan terlibat terorisme tidak terlepas dari keyakinan pribadi masing-masing, misalnya karena ingin meraih surga. Kondisi ini berbahaya karena mampu memicu 'adrenalin' pria.

"Bahwa wanita saja berani melakukan aksi, masak laki-laki enggak berani' dan ini menjadi tren. Lalu ada keyakinan suami-istri ingin masuk surga bersama, nah itu jadi tren juga," Yudi menjelaskan. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top