BP2MI Geram Ada Praktik Pemalakan Pekerja Migran di Wisma Atlet

publicanews - berita politik & hukumPara pekerja imigran Indonesia. (Foto: Antara)
PUBLICANEWS, Jakarta - Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menerima sejumlah aduan mengenai dugaan pemalakan yang menimpa para pekerja migran di Wisma Atlet.

"Benar! Saya beberapa hari ini banyak dapat aduan yang sama ke saya," kata Staf Khusus Kepala BP2MI Aznil Tan saat dikonsumsi wartawan, Minggu (11/4).

Aznil pun mengutuk praktik-praktik premanisme tersebut. Aktivis 98 ini menegaskan akan memberantas pihak yang mem-backing para calo agen travel perjalanan tersebut.

"Ini mesti kita sikat. Langkah awal, saya akan ramaikan kasus ini agar publik tahu atas pemalakan ini. Selanjutnya, saya akan dorong BP2MI turun all out untuk memberantas preman-preman tersebut," ujarnya.

Diketahui, untuk memenuhi protokol kesehatan Covid-19, Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang tiba di Indonesia wajib masuk karantina di Wisma Atlet, Jakarta sekitar lima hari.

Saat hari terakhir karantina dan mereka dipastikan tidak terjangkit Covid-19, tidak semuanya bisa keluar dari wisma atau pulang ke kampung halaman.

Nugeraha, salah satu eks PMI mengaku dicegat oknum yang mengaku dari travel dengan tarif yang tinggi.

"Saya dan teman-teman saya dipaksa harus naik travel mereka. Ke Bandara Soetta aja digetok Rp 300 ribu per orang," kata Nugeraha, kepada wartawan.

Bahkan saat hendak keluar dari area wisma, Nugeraha terus dicegat. Oknum yang mengaku dari travel itu mengintimidasi dengan mengambil foto dari luar mobil.

"Saya langsung banting pintu mobil dan tanya 'apa maksudnya?' Saya sudah sabar mengikuti prosedur yang ditetapkan Pemerintah. Tapi saat tiba waktunya pulang, mereka seperti 'memalak' kami," ia mengungkapkan. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top