Aksi Polisi Koboi Ingatkan Kematian 6 Laskar FPI

publicanews - berita politik & hukumBripka Cornelius Siahaan, penembak anggota TNI dan karyawan kafe RM di Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (25/2) dini hari. (Foto: istimewa)
PUBLICANEWS, Jakarta - Belakangan muncul oknum-oknum polisi yang membuat kegaduhan dengan mengeluarkan senjata api bak koboi di tempat umum. Kasus terbaru yakni aksi Iptu Mustofa mengacungkan pistol saat aksi mogok kerja buruh PT Rezeky Fajar Andalan (RFA), Jumat, (26/2).

Anggota Mapolsek Kamparan Perak itu telah dijemput Propam Polres Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara.

"Kami proses dan kami lakukan pemeriksaan, sesuai dengan aturan," kata Wakapolres Pelabuhan Belawan Kompol Herwansyah dalam keterangan tertulisnya, Minggu (28/2).

Mustofa telah melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Aturan Disiplin Anggota Kepolisian, yang tertuang dalam Pasal 5 huruf a, yakni melakukan hal-hal yang dapat menurunkan kehormatan dan martabat negara, pemerintah, dan kepolisian.

Foto Mustofa berdiri sambil mengacungkan pistol sementara para buruh duduk di tanah di depannya viral di media sosial. Mustofa telah membuat video pernyataan yang berisi permintaan maaf kepada pekerja karena telah membuat mereka terintimidasi

Kasus koboi berseragam itu juga dilakukan Bripka Cornelius Siahaan. Ia menembak anggota TNI AD Sinurat dan tiga karyawan RM kafe di Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (25/2).

Saat itu Cornelius mabuk berat dan tidak mau membayar tagihan minuman keras yang dipesan bersama rekan-rekannya sebesar Rp 3,3 juta. Anggota Polsek Kalideres itu kini telah menjadi tahanan Polda Metro Jaya.

Atas kejadian itu Polri melarang anggotanya memasuki tempat hiburan dan mabuk-mabukan. Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengungkapkan Divpropam Polri akan mengawasi perilaku anggota Polri di lapangan. Bila ditemukan penyimpangan, maka akan ditindak.

"Jika ada perilaku anggota yang melanggar ketentuan, maka Propam akan melakukan tindakan terhadap anggota yang melanggar,” kata Rusdi saat dikonfirmasi wartawan, Sabtu (28/2)

Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo memastikan jajarannya melakukan proses hukum terhadap Bripka Cornelius. Selain proses pidana, Cornelius terancam dipecat dari satuannya.

Ferdy menjelaskan, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2003 Pasal 11, 12, 13, maka Bid Propam Polda Metro Jaya dan Div Propam Polri akan melakukan proses pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH).

Atas kejadian polisi ugal-ugalan tersebut, Divpropam Polri akan melakukan pengecekan kembali prosedur pemegang senjata api di seluruh jajaran dan wilayah baik. Akan ada tes psikologi, latihan menembak, dan catatan perilaku anggota Polri.

"Propam Polri juga akan melakukan penertiban terhadap larangan anggota Polri untuk memasuki tempat hiburan dan meminum minuman keras termasuk penyalahgunaan narkoba," kata Ferdy.

Hukuman Mati
Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menilai aksi brutal polisi koboi di Cengkareng menunjukkan Jakarta semakin tidak aman. Ia mendesak oknum polisi yang melakukan penembakan dijatuhi hukuman mati dan Kapolres Jakarta Barat harus dicopot.

Ada dua alasan kenapa Kapolres Jakarta Barat harus dicopot. Pertama, sebagai penanggungjawab keamanan wilayah dia membiarkan ada kafe yang buka hingga pukul 04.00, padahal saat ini tengah pandemi Covid 19.

"Kedua, Kapolres kurang memperhatikan perilaku anak buahnya hingga terjadi peristiwa brutal," ujar Neta, Kamis (25/2).

Menurut Neta peristiwa tersebut sangat memprihatinkan. Sebab kasus tembak mati enam laskar FPI di Km 50 Tol Cikampek saja belum beres, kini Polda Metro Jaya masih harus menghadapi kasus tembak mati tiga orang di Cengkareng.

"Parahnya lagi korban yang ditembak oknum polisi itu adalah anggota TNI. Untuk itu Polda Metro Jaya perlu bertindak cepat dan segera copot Kapolres Jakarta Barat yang bertanggungjawab terhadap keamanan dan ketertiban di wilayah tersebut," katanya.

Siapa Bripka Cornelius Siahaan? Informasi dari sejumlah sumber mengungkapkan, Cornelius merupakan salah satu anggota Tim Buru Sergap atau Buser di Satreskrim Polsek Kalideres.

Ia kerap tampil dalam rilis yang dilangsungkan di Polsek tersebut. Polisi bertubuh tambun dan berambut gondrong itu diduga sedang mabuk berat saat menguarkan senjata api.

Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman menyampaikan pesan agar penembakan prajurit oleh oknum polisi itu tidak menganggu hubungan baik TNI-Polri.

Ada beberapa pesan yang disampaikan Dudung melalui Kapendam Jaya Letkol Herwin Budi Saputra saat mendatangi Mapolda Metro Jaya.

"Pangdam Jaya sudah memerintahkan Pomdam Jaya untuk mengawal pemeriksaan maupun penyidikan oleh Polda Metro Jaya, agar permasalahan ini diselesaikan secara hukum yang berkeadilan," kata Herwin kepada wartawan, Kamis (25/2).

Pesan tersebut bertujuan TNI tidak membuat isu-isu yang dapat merusak stabilitas keamanan Ibukota. Kedua, Pangdam Jaya berjanji memperketat pelaksanaan patroli bersama antara Garnisun dan Polda Metro Jaya.

"Ini yang disampaikan ke rekan-rekan prajurit TNI di lapangan agar tidak terjadi suatu dinamika yang terprovokasi, kami tetap mengharapkan sinergitas antara TNI dan Polri," Herwin menambahkan. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top