Ancaman Virus Flu Babi Tak Surutkan Keramaian Pasar Tomohan

publicanews - berita politik & hukumLapak Opa Betus yang menjual daging babi di Pasar Beriman, Tomohon, Sulawesi Utara. (Foto: Publicanews/edi)
PUBLICANEWS, Tomohon - Opa Betus namanya. Melihat wajahnya sepintas, kesan pertama ia sudah berumur dan pasti kawakan dibanding para pedagang lain di Pasar Beriman, Tomohon, Sulawesi Utara.

Di pasar yang dikenal sebagai pasar ekstrim itu, Opa Betus memang sudah berjualan sejak 1972, ia menjajakan daging babi. Di usia senjanya, ia hanya mengawasi lapaknya yang sudah didelegasikan ke anaknya.

Ia mengatakan babi merupakan komoditas utama masyarakat Tomohon dan sebagian besar Sulut. Selain menjadi lauk keseharian warga, daging babi juga menjadi hidangan utama di berbagai acara dan pesta.

"Namun, sekarang penjualan merosot. Sebelum corona bisa potong tujuh ekor sekarang hanya tiga sehari," kata Opa Betus saat ditemui Publicanews di lapaknya, Minggu (5/7).

Menurutnya, pandemi corona menjadi penyebab orang segan ke pasar. Ia juga menyebut daya beli masyarakat merosot. Namun, Opa Betus memastikan babi tak mungkin ditinggalkan sebagai menu hidangan masyarakat.

Bahkan, ia pun tidak percaya babi bisa menjadi penyebab munculnya virus corona. Jika babi dimasak dengan benar maka virus dan bakteri bakal mati.

Pasar Tomohon Tetap Ekstrim di Tengah Lonjakan Corona

Di luar keyakinan Betus, Jurnal Proceeding of National Academic of Science  (PNAS), pekan lalu, menyebutkan adanya varian baru dari virus flu babi H1N1 yang ditemukan oleh para peneliti Tiongkok. Virus yang diberi kode G4 EA H1N1 atau virus G4 tersebut berpotensi jadi pandemi baru.

Ilmuwan menganalisis hampir 30 ribu swab hidung babi di 10 provinsi berbeda di negara Tirai Bambu itu sejak 2011 hingga 2018. Tes antibodi mendapatkan sekitar 10,4 persen pekerja di industri babi dan 4,4 persen populasi umum saat ini telah terinfeksi virus tersebut.

Virus G4 dapat melekat pada sel yang melapisi trakea atau kerongkongan. Trakea menghubungkan berbagai organ penting dalam tubuh, termasuk paru-paru. Virus ini menginfeksi sel epitel saluran napas manusia.

Di Indonesia, bahaya virus G4 belum diketahui. Namun, terkait atau tidak, saat ini tengah terjadi kematian ribuan babi akibat diserang virus African Swine Fever (ASF) atau virus demam babi Afrika. Serangan virus itu salah satunya terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sekretaris Dinas Peternakan NTT Frans Samon mencatat sudah 22 ribu babi yang mati. "Virus demam babi Afrika telah menyebar ke Sumba, Alor, bahkan sampai di Flores khususnya di Kabupaten Sikka," kata Frans, Sabtu kemarin. Ia mengimbau pembelian daging babi hanya boleh dilakukan di rumah pemotongan hewan (RPH).

Bagaimana dengan Tomohon? Opa Betus tersenyum dan memastikan jualannya bersih dan sehat. (feh)

Berita Terkait

Komentar(3)

Login
  1. cin94 @cin9406 Juli 2020 | 16:10:29

    Mungkin mereka memang sudah terbiasa sampai mengalahkan rasa takut, apalagi katanya itu konsumsi utama warga sekitar.

  2. WE_A @WandiAli05 Juli 2020 | 21:16:40

    Ada syaratnya dan tahu caranya, maka aman lah. Karena sejak dl sdh menjadi makanan favorit.

  3. Anak Gaul @gakasikah05 Juli 2020 | 19:08:28

    wow serem. masih ada aja ya.

Back to Top