Petugas Medis RSUD Ogan Ilir Dipecat Ditengah Negosiasi

publicanews - berita politik & hukumPerwakilan tenaga medis RSUD Ogan Ilir saat audiensi dengan Komisi IV DPRD setempat, Senin (18/5) siang. (Foto: Istimewa)
PUBLICANEWS, Ogan Ilir - Satu dari 109 petugas medis RSUD Ogan Ilir yang dipecat membantah lalai dan tidak menjalankan kewajibannya.

Menurut pria perawat yang tak mengungkap jati dirinya itu, aksi mogok 5 hari para tenaga medis karena kecewa kebijakan direksi yang memperkerjakan tenaga medis mengurus pasien Covid-19 tanpa kelengkapan alat pelindung diri (APD).

Dalam penyampaian aspirasi ke DPRD Ogan Ilir tersebut mereka meminta pemerintah setempat menyediakan rumah singgah untuk membersihkan diri sebelum pulang ke rumah.

Selain itu mereka juga menuntut kejelasan SK penugasan, sehingga ada insentif. Aspirasi tersebut telah disampaikan massa kepada direksi rumah sakit dan DPRD Ogan Ilir.

Saat proses negosiasi, kata sang perawat, direksi RSUD meminta waktu 4 hari untuk mengkaji tuntutan. Namun bukannya mendapat kejelasan, sebanyak 109 orang justru menerima SK pemecatan secara tidak hormat yang ditandatangani langsung bupati.

"Dikatakan kami lalai, padahal tidak. Kami disuruh perang, tapi tidak dipersenjatai. Senjata ada, tapi kami tidak bisa mengaksesnya. Kami mogok supaya Direktur RSUD mendengar keinginan kami, bukan malah dipecat," ujar sang sumber dalam keterangan tertulisnya, Kamis (21/5).

Sebanyak 150 tenaga kesehatan mogok kerja sejak Jumat (15/5). Pada Senin (18/5), mereka sempat mendatangi Komisi IV DPRD untuk memfasilitasi tuntutan mereka. Kemudian, pihak RSUD meminta waktu hingga Jumat (22/5) untuk mengkaji tuntutan tersebut. 

Sambil menunggu realisasi pemenuhan tuntutan mereka mogok kerja. Pada Rabu (20/5), mereka yang mogok disuruh kembali bekerja. Namun dari 150 orang, hanya tujuh orang perwakilan yang datang untuk menemui Dirut RSUD. Malam harinya, mereka mendapatkan salinan SK Bupati yang menyebutkan 109 tenaga kesehatan dipecat.

"Kami yang tidak hadir dianggap mengundurkan diri dari pekerjaan. Ini seperti petir di siang bolong. Padahal tidak seperti itu kesepakatan awalnya karena pihak RSUD belum memberikan penjelasan mengenai insentif dan surat tugas kita," ujar perawat tersebut. (han)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top