Sragen

Pemudik Bandel Nangis Ketakutan Dikarantina di Rumah Angker

publicanews - berita politik & hukumRumah berhantu lokasi karantina bagi pemudik bandel di Desa Sepat Kecamatan Masaran, Sragen, Jateng. (Foto: omahlondogondang.blogspot.com)
PUBLICANEWS, Sragen - Kepala Desa Sepat, Masaran, Kabupaten Sragen, Mulyono mengatakan tiga pemudik bandel yang menjalani karantina di rumah berhantu meminta ampun dan menangis selama dua hari.

"Dua hari mereka nangis-nangis terus. Tiap malam katanya didatangi dan dibayang-bayangi hantu di rumah hantu," kata Mulyono kepada wartawan, Minggu (25/4).

Ia menjelaskan, ketiga pemuda itu tidak mematuhi larangan mudik. Mulyono meminta mereka mengisolasi diri di rumah masing-masing, usai perjalanan mudik. Mereka lalu tak mengindahkan teguran tersebut.

"Mereka dari Jakarta, Kalimantan, dan Lampung. Sudah kita minta isolasi diri 14 hari tapi bandel. Terpaksa kita jemput," ujarnya.

Ketakutan tiga pemuda tadi, kata Mulyono, tak tertahan lagi. Orangtua masing-masing pemudik memohon kepada kepala desa agar anak mereka bisa dikarantina di rumah.

Mulyono pun mengabulkan dengan syarat masing-masing orangtua harus mengawasi anaknya dengan ketat. Di hari ketiga, Satgas Covid-19 Desa Sekat melepas ketiga pemuda itu.

"Kita beri keringanan dan akhirnya kita lepaskan dari rumah hantu. Apabila kita masih temukan warga yang mudik kita tindak," Mulyono menegaskan.

Rumah kosong bekas gudang tas dan pabrik tebu itu dikenal masyarakat sebagai Omah Londo karena berdiri sejak kolonial Belanda. Masyarakat menganggap rumah tersebut sebagai legenda rakyat dengan kisah-kisah mistisnya.

Diketahui cara unik bagi pelanggar larangan mudik di tengah pandemi Covid-19 ini digagas Bupati Sragen Yuni Sukowati. Ia menginstruksikan para kepala desa menyiapkan rumah kosong di wilayahnya.

Ada dua rumah kosong yang disediakan, yakni di Kecamatan Plupuh dan di Desa Sepat Kecamatan Masaran. (imo)


Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top