Dewan Pers Desak Kasus Penganiayaan Wartawan Aceh Diproses Hukum

publicanews - berita politik & hukumWartawan Antara Teuku Dedi Iskandar dirawat di RSU Cut Nyak Dhien Meulaboh, Senin (20/1). (Foto: Waspada)
PUBLICANEWS, Jakarta - Jurnalis Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara di Aceh Barat Teuku Dedi Iskandar menjadi korban pengeroyokan sekolompok orang tak dikenal. Akibat penganiayaan itu, Ketua PWI Aceh Barat tersebut harus menjalani perawatan di RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Cut Nyak Dhien Melauboh.

Anggota Tim Ahli Dewan Pers Rustam Fachri Mandayun mendesak agar kasus itu diproses secara hukum. Para pelaku harus dihukum sesuai dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

"Khususnya Pasal 18 ayat 1 yang menyebutkan siapapun yang menghalang-halangi kerja wartawan bisa dipidana 2 tahun atau denda Rp 500 juta," kata Rustam kepada Publicanews, Selasa (21/1) pagi. Ia juga mendesak dihentikannya tindak kekerasan terhadap jurnalis.

Menurut Kepala Biro LKBN Antara Aceh Azhari, penganiayaan Dedi diduga terkait dengan pemberitaan. Dedi dikeroyok saat berada di warung kopi di Meulaboh, Aceh Barat, Senin (20/1) pukul 12.00 WIB.

Azhari mendesak agar Polda Aceh mengusut tuntas kasus pengeroyokan tersebut, tidak hanya sebatas pelaku tetapi juga dalang di balik penganiayaan.

Sebelum pengeroyokan terhadap Dedi, jurnalis Modus Aceh Aidil Firmansyah mendapat ancaman pembunuhan pada Sabtu (4/1). Diduga Aidil diancam oleh oknum pengusaha akibat pemberitaan yang ia tulis. Kasus ancaman ini telah dilaporkan ke Kepolisian Resor Aceh Barat.

Kasus teror dan penganiayan ini menambah daftar panjang ancaman terhadap wartawan di Serambi Mekah. Pada akhir 2019 lalu, rumah seorang wartawan Serambi Indonesia di Kutacane, Aceh Tenggara, dibakar. Selang sehari kemudian terjadi percobaan pembakaran kantor PWI Aceh Tenggara. (feh)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Iis_osya @iis_osya21 Januari 2020 | 18:09:45

    Wah ini kok masih terjadi lagi. Harus di proses sampai ke aktor dibaliknya.

Back to Top