Wanita Malaysia di Balik Karamnya Rumah Tangga UAS

publicanews - berita politik & hukumMellya Juniarti dan sang buah hati. (Foto: Instagram/mizyanhadziq)
PUBLICANEWS, Bangkinang - Pengadilan Bangkinang, Riau telah mengesahkan perceraian pendakwah kondang Ustaz Abdul Somad Batubara (UAS) dengan Mellya Juniarti pada 3 Desember 2019.

Tabir di balik perceraian pun mulai terkuak. Salah satunya, soal bukti chating antara UAS dengan perempuan Malaysia berinisial TN. Namun, majelis hakim mengesampingkan bukti hasil kloning itu karena tidak ada uji forensik dan cara mendapatkannya dinilai ilegal.

Dalam penyadapan itu terlihat puluhan bukti chat mesra antara UAS dan TN. Bahkan, dai berjuta umat itu menjanjikan akan menikahi TN di Thailand.

Pengacara Mellya, Nurhasmi mengatakan chat mesra itu diperoleh dari penyadapan ponsel milik TN. Nurhasmi mengatakan kliennya mengetahui nomor seluler TN.

Dalam gugatan perceraian UAS mengajukan empat alasan menceraikan istrinya yang dinikahi di KUA Kuantan Hilir, Riau, pada 20 Oktober 2012.

Menurut UAS, istrinya jarang mau menerima nasihat, tidak patuh, sering berprasangka, dan sudah tidak berkomunikasi.

Bahkan, UAS menuding istrinya pernah menuntut diberi mobil dan ruko saat diminta untuk menyerahkan buku nikah. Surat nikah itu diperlukan UAS untuk pengurusan dokumen ke Australia. Saat itu, antara UAS dan Mellya sudah pisah rumah. Mereka pisah rumah sejak Mei 2016.

Saksi yang dihadirkan UAS mengatakan Mellya meminta pengganti lembaran pertama dengan mobil dan lembaran kedua dengan ruko. Namun kesaksian itu dibantah Mellya. "Tidak benar kalau meminta mobil dan ruko, itukan versi mereka saja," kata Nurhasmi, Jumat (13/12).

Nurhasmi mengatakan utusan UAS meminta buku nikah tidak disertai surat kuasa sehingga Mellya menolak menyerahkan dokumen penting itu.

Gara-gara buku nikah itu, Mellya melaporkan UAS ke Polres Kuansing pada 18 Oktober 2019. Pasalnya, UAS dianggap menduplikasi buku nikah tersebut.

Pengacara UAS, Hasan Basri menilai UAS mempunyai hak atas kutipan buku pernikahan itu. "Karena ditahan ya otomatis harus minta duplikat. Pernikahan mereka kan sah, mengapa harus dilaporkan?" kata Hasan, kemarin.

Dalam sidang perceraian yang berlangsung 11 kali, UAS tak pernah sekalipun datang. Ia hanya diwakilkan kuasa hukum. Upaya mediasi di awal persidangan tak menemukan titik temu. UAS tetap ingin menceraikan istrinya yang telah memberikan satu anak itu.

Ketua majelis Abdul Rahim dengan anggota Ermisa Yustri dan Syufyan Nasution dalam pertimbangan vonis mengesampingkan siapa penyebab perselisihan dan pertengkaran sehingga pasangan ini dianggap tidak bisa berdamai lagi.

"Abstraksi hukum bahwa tidak perlu lagi mempertimbangkan siapa yang menyebabkan timbulnya perselisihan tersebut, melainkan ditekankan pada keadaan itu sendiri, apakah telah pecah/retak dan sulit dipertahankan," kata majelis hakim dalam pertimbangan vonis.

Menurut hakim, pintu perceraian dapat dibuka guna menghindarkan para pihak dari kemelut rumah tangga yang berkepanjangan yang akan membawa mudharat bagi masing-masing pasangan.

Hakim beranggapan meneruskan rumah tangga yang sudah tidak harmonis hanya akan membuat salah satu pihak atau bahkan kedua belah pihak dalam keadaan teraniaya (dzulm). (feh)

Berita Terkait

  • Tidak ada berita terkait

Komentar(1)

Login
  1. Cewek Kepo @ceweKepo13 Desember 2019 | 22:32:54

    Semoga segera ketemu titik terangnya buat kedua belah pihak,, supaya tidak ada yg tersakiti dan menyakiti

Back to Top