Pelaku Teror Sprema di Tasikmalaya Belum Tertangkap

publicanews - berita politik & hukumTerduga pelaku pelempar sperma di Tasikmalaya. (Foto: media sosial)
PUBLICANEWS, Tasikmalaya - Pelaku pelempar sperma terhadap sejumlah wanita di Tasikmalaya, Jawa Barat, masih belum berhasil diamankan. Padahal, foto pelaku telah beredar di media sosial.

"Kami masih terus melakukan pencarian," kata Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota AKP Dadang Sudiantoro di kantornya, Senin (18/11).

Dadang menjelaskan, polisi mendapatkan foto dari pelapor bahwa pelaku adalah pengendara motor Honda Scoopy bernomor polisi Z 501 LB warna hitam. Pria tersebut mengenakan jaket kulit.

Menurut Dadang, baru ada satu korban pelapor. Namun sesuai unggahan korban dan keterangan dari media, korban pelempar sperma lebih dari satu orang. Oleh karena itu Dadang mengimbau warga yang mengetahui pria sesuai gambar yang beredar segera melapor ke petugas.

Persitiwa teror asusila ini dialami seorang wanita saat menunggu ojek online di Letjen Mashudi, Tasikmalaya. Pemotor tak dikenal tiba-tiba mendekat.

"Istri saya ditanya pelaku dan langsung merogoh kemaluanya sendiri yang digesek ke kursi jok motornya. Habis itu melempar sperma ke tubuh istri saya, untung enggak kena," kata RF, suami korban LF, kepada wartawan, Minggu (17/11).

RF mengatakan istrinya sempat memotret pelaku saat kejadian pada Rabu (13/11) sekitar pukul 14.40 WIB itu.

Polisi Buru Pelempar Sperma ke Sejumlah Wanita Tasikmalaya

Foto pria asusila itu kemudian oleh RF diunggah di Facebook. RF mengaku sempat mencari pelaku hingga di rumahnya di kawasan Kecamatan Cihideung, Tasikmalaya.

Namun, ia tidak sempat bertemu dengan pelaku. RF mengatakan berdasar keterangan warga dan keluarga, pelaku kerap membikin onar.

Sementara itu, Wakil Ketua Komnas Perempuan Budi Wahyuni mengatakan, bentuk perilaku pelaku masuk kategori eksibisionisme yang agresif. "Jadi ada suatu kepuasan sendiri dari pelaku dan kalau korbannya takut itu semakin puas," Wahyuni menjelaskan.

Banyaknya kasus pelecehan, ia menambahkan, dipandang perlu pemerintah dan DPR segera mengesahkan UU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Khusus kasus yang menimpa LF, menurut Wahyuni, tidak bisa masuk tindak pencabulan karena tidak ada sentuhan fisik pelaku terhadap korban. Ia menyebut kasus tersebut masuk kategori pelecehan seksual.

Wahyuni menyayangkan keluarga korban memviralkan foto pelaku. Meski tujuannya untuk membuat efek jera tetapi bisa masuk kategori pelanggaran UU ITE. Foto sebagai bagian barang bukti sebaiknya cukup diserahkan kepada polisi. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top