Gerindra dan PKS Pecah Kongsi di Jakarta

publicanews - berita politik & hukumKetua DPD Partai Gerindra DKI Jakarta M Taufik . (Foto: istimewa)
PUBLICANEWS, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta yang belum terisi sejak mundurnya Sandiaga Uno membuat panas hubungan Partai Gerindra dan PKS.

Dua partai pengusung Anies Baswedan dan Sandiaga Uno itu kini berebut posisi wakil gubernur yang sudah kosong sejak Sandi menyampaikan surat pengunduran diri di Gedung DPRD DKI Jakarta dalam sidang paripurna pada 27 Agustus 2018.

Semula Partai Gerindra menggelar karpet merah agar posisi wagub diisi dari PKS yang telah mendukung pencalonan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019.

Dua nama disodorkan PKS untuk menggantikan Sandi. Mereka yaitu
Agung Yulianto dan Ahmad Syaikhu. Gerindra ikut meneken pengusulan dua nama tersebut.

DPRD kemudian membentuk Panitia khusus (pansus) pemilihan wakil gubernur DKI. Mereka merumuskan tata tertib pemilihan wagub pengganti Sandiaga Uno dan mengesahkannya pada 10 Juli 2019.

Namun, pembahasan posisi wagub tetap tidak jelas. Bahkan muncul wacana ada kesengajaan karena menunggu Sandiaga Uno setelah gagal sebagai cawapres.

Sandi sendiri menegaskan tidak berminat memegang kembali jabatan yang ia raih dalam Pilkada 2017 itu.

"Enggak (kembali jadi wagub). Sudah saya sampaikan itu merupakan jatah PKS," ujar Sandiaga di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada 21 September 2019.

Namun hingga akhir masa tugas DPRD periode 2014-2019. Kedua nama kader PKS itu tak pernah masuk agenda rapat paripurna. Anggota Dewan yang berkantor Kebon Sirih berganti wajah, Gubernur Anies Baswedan masih tetap 'jomblo'.

Kini, peta politik berubah. Gerindra masuk dalam lingkaran Jokowi, Ketua DPD Partai Gerindra Mohamad Taufik mengusulkan empat nama baru mengesampingkan dua jagoan PKS.

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta itu mengatakan telah mengirimkan empat nama cawagub, yakni Arnes Lukman, Ferry Juliantono, Ahmad Riza Patria, dan Sekwilda Pemprov DKI Saefullah. Usulan itu termuat dalam surat yang juga ditujukan ke DPP PKS.

Tak pelak, kubu PKS meradang. Partai besutan Prabowo Subianto dinilai selama ini tidak serius mendukung calon yang diajukan partai dakwah itu.

"Dua nama Cawagub DKI itu sudah ada di DPRD, Agung Yulianto dan saya. Jadi ini bicara keseriusan, komitmen, dan etika politik," kata Ahmad Syaikhu, Jumat (8/11).

Ia kemudian mengatakan masyarakat akan menilai Gerindra tidak komitmen, karena tidak memiliki etika politik.

Sebaliknya, DPD Gerindra DKI meminta Syaikhu berani introspeksi. "Bagaimana enggak tahu beretika, kami ikut tanda tangan yang pertama (dua nama cawagub dari PKS). Itu etika nggak?" kata M Taufik kepada wartawan, Jumat (8/11).

"Terus kalau ini (pemilihan cawagub) mogok, diam saja kita? Kenapa kita nggak berani introspeksi diri? Apakah calonnya? Apakah komunikasinya?" ujar Taufik dengan nada keras.

Taufik menegaskan tidak ada komitmen yang dilanggar partainya. Alasan penyodoran nama baru, katanya, karena selama ini PKS tak pernah mengkomunikasikan dua nama cawagubnya ke fraksi lain.

Usulan Taufik ini seolah mencerminkan tidak mesranya dua partai yang sebelumnya bersekutu mencalonkan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dalam Pilkada 2019.

Retaknya kongsi ini makin memberi ketidakpastian atas pendamping Anies yang tinggal menyisakan waktu mempimpin DKI Jakarta hingga pertengahan 2022. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top