Pemilik Mobil B 1 RI Bukan Keturunan Raja Maluku

publicanews - berita politik & hukumPemilik mobil B 1 RI Irwanul Latubual saat dihadirkan dalam gelar perkara di Polda Metro Jaya, Selasa (5/11). (Foto: FWP)
PUBLICANEWS, Jakarta - Pemilik mobil Nissan Terrano bernopol B 1 RI Irwanul Latubual yang mobilnya menghalangi tamu negara di Hotel Raffles, Jakarta, terungkap memiliki gelar akademis palsu. Ia juga bukan keturunan raja dari Maluku.

Kasubbid Penmas Humas Polda Metro Jaya AKBP I Gede Nyeneng mengatakan, Irwanul sempat mengaku memiliki hubungan dengan raja Pulau Buru untuk bisa masuk ke acara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden di Gedung DPR, 20 Oktober lalu.

"Dia mau action (pasang aksi) di sana, pengin diakui dia keturunan raja, makanya dia coba hadir di DPR. Kalau dia bisa hadir, bisa foto-foto dengan pejabat sehingga nanti bisa ditunjukan ke pihak-pihak lain kalau dia betul keturunan raja," ujar Gede di kantornya, Selasa (5/11).

Irwanul tidak memiliki undangan resmi, ia menggunakan segala cara agar bisa datang ke lokasi. Gede menyebut Irwanul sempat beberapa kali masuk area gedung DPR beberapa hari menjelang pelantikan presiden.

Ia menginap di sebuah hotel di kawasan Jakarta Selatan, tapi hari itu ia mampir ke Hotel Raffles dan memarkir kendaraan di depan lobi sehingga menghalani mobil tamu negara yang akan menghadiri pelantikan Jokowi dan Ma'ruf Amin. Irwanul diamankan sekuriti hotel dan polisi. Dari dalam mobil putih itu ditemukan dua senjata tajam.

"Hasil pemeriksaan tersangka IL di mobil bawa 2 sajam dengan alasan sajam ini peninggalan dari keluarganya yang merupakan keluarga keturunan raja-raja di Pulau Buru, Maluku," Gede menjelaskan.

Penyidik menelusuri kebenaran silsilah tersangka. Setelah dicek ia bukanlah keturunan raja. "Motif membawa sajam khas daerah itu hanya alasan," ujarnya.

Pada KTP, ia menulis gelar Profesor dan Doktor (PhD). Ternyata gelar pendidikan itu ia bubuhkan saat membuat KTP. "KTP-nya asli, tapi titelnya palsu dengan blanko dibuat sendiri," Gede menandaskan.

Terrsangka mengaku mendapat gelar akademis dari University of Berkley, Michigan, Amerika Serikat. Namun menurut data di Kemenristekdikti, nama Irwanul tidak terdaftar.

Atas perbuatannya, tersangka dikenakan Pasal 2 ayat 1 UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951. Ancaman hukumannya 10 tahun penjara. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top