Prostitusi Online

Polisi Bongkar Prostitusi ABG dengan Pejabat

publicanews - berita politik & hukumPara PSK yang diamankan Polres Tasikmalaya di sebuah hotel di Tasikmalaya, Rabu (30/10). (Foto: radartasikmalaya)
PUBLICANEWS, Tasikmalaya - Polisi membongkar praktik prostitusi daring yang melibatkan remaja dengan pemesannya diduga dari kalangan pejabat dan politisi di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (30/10).

Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota AKP Dadang Sudiantoro mengungkapkan, praktik mesum ini dilaporkan salah satu petugas resepsionis hotel yang sering menerima tamu dari remaja putri hingga seorang pejabat.

"Dilaporkan ada beberapa anak perempuan dan laki-laki yang mencurigakan. Kita dapatkan di salah satu kamar lima orang perempuan dan tiga laki-laki. Kita temukan juga alat kontrasepsi," kata Dadang kepada wartawan, Rabu (30/10).

Ketika polisi mendatangi kamar hotel tersebut, di sana ada 5 wanita dan tiga pria mucikari. Mereka adalah Wi (22), Ay (17), Fi (18), Fe (16), dan Ri (17). Lalu germo Az (29), Ar (20), dan G (22).

Pegawai hotel curiga karena mereka masuk secara bergantian. Praktik tersebut diawali Wi mengenal ketiga mucikari dan diminta membawa perempuan usia muda. Wi pun mengajak empat rekannya lewat media sosial.

Dari keterangan Wi diketahui mereka sudah tinggal di hotel tersebut dua hari. Para perempuan ini ditawarkan melalui salah satu aplikasi daring kepada pria hidung belang. Dalam sehari mereka melayani dua pria, terutama di akhir pekan.

"Hari biasa hanya satu pelanggan. Pelanggan para pejabat dan politikus serta pengusaha di Tasikmalaya," Dadang menambahkan.

Praktik mesum tersebut baru berjalan dua bulan, namun pelanggannya sudah banyak dan bertransaksi hampir setiap hari. Oleh mucikari, para pekerja seks komersial (PSK) ini dibanderol Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu. "Sementara kalau melayani seharian Rp 2,7 juta, itu sudah sama kamar hotel," ujarnya.

Kedelapan orang tersebut tidur bersama dalam satu kamar. Apabila ada pelanggan, maka sebagian PSK pindah ke kamar lain. Para perempuan ini sudah putus sekolah. Saat ini penyidik tengah mendalami para pemesannya yang kabarnya pejabat setempat.

"Mereka kita jerat Pasal 2 dan Pasal 6 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang. Ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara," kata Dadang. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top