Polisi Panggil Sekretaris FPI Sebagai Saksi Persekusi Buzzer Jokowi

publicanews - berita politik & hukumNinoy Karundeng yang dduga dipersekusi kelompok massa unjuk rasa di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat. (Foto: FWP)
PUBLICANEWS, Jakarta - Setelah menetapkan Sekretaris Persaudaran Alumni (PA) 212 Bernard Abdul Jabbar sebagai tersangka dugaan persekusi terhadap relawan pendengung (buzzer) Jokow, Ninoy Karundeng, penyidik Polda Metro Jaya memanggil Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman hari ini, Rabu (9/10).

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, penyidik menduga Munarman meminta dan menghapus rekaman CCTV Masjid Al-Falah, Pejompongan, Jakarta, tempat Ninoy dipersekusi.

"Ya, nanti Pak Munarman akan dimintai keterangan sebagai saksi," kata Argo kepada wartawan, kemarin.

Persekusi terhadap Ninoy terjadi pada Senin (30/9), saat ia memotret pendemo aksi menolak RUU KPK dan KUHP di kawasan Pejompongan yang menjadi korban gas air mata. Tampaknya ada pendemo yang mengenali Ninoy sebagai buzzer Jokowi.

Ia kemudian dibawa ke suatu tempat untuk diinterogasi dan mendapat penganiayaan. Ponsel dan laptop milik Ninoy dicopi seluruh datanya. Ninoy baru dilepas keesokan harinya.

Kemarin, polisi telah menahan Bernard di Rutan Mapolda Metro Jaya. Menurut Argo, Bernard berada di lokasi dan ikut mengintimidasi Ninoy.

Total sudah 13 orang menjadi tersangka yang ditahan dalam kasus dugaan persekusi ini. Mereka adalah AA, ARS, YY, RF, Baros, S, SU, ABK, IA, R, Fery alias F, dan Bernard Abdul Jabbar. Satu tersangka lagi, yakni TR, tidak ditahan mengingat kondisi kesehatannya yang tak baik.

Diantara 13 tersangka tersebut, Argo menambahkan, ada tiga orang perempuan. "Mereka kita kenakan Undang-undang ITE," ia menjelaskan.

Adapun Bernard, polisi menjeratnya karena menyebarkan video penganiayaan tersebut ke sosial media. "Jadi dia yang menyebarkan video ke sosial media. untuk itu Bernard diganjar UU ITE," ujar Argo. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top