Tujuh Tahanan Politik Kasus Makar Akan Disidang di Luar Papua

publicanews - berita politik & hukumMassa KNPB saat menggelar demonstrasi. (Foto: suarapapua.com)
PUBLICANEWS, Jayapura - Sidang pengadilan tujuh tahanan politik dalam kasus dugaan makar dan penghasutan kerusuhan Papua akan dipindahkan ke Kalimantan Timur. Ketujuh tersangka adalah Buktar Tabuni, Agus Kossay, Fery Kombo, Alexander Gobay, Steven Itlai, Hengki Hilapok, dan Irwanus Uropmabin.

Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw mengatakan, pemindahan tersangka aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan ULMWP itu karena faktor keamanan.

"Sudah dilaporkan ke gubernur (Gubernur Papua Lukas Enembe) saat Rakertas pada Jumat (4/10) malam," kata Paulus kepada wartawan di kantornya, Sabtu (5/10).

Menurut Paulus, proses pemindahan sudah berdasarkan pertimbangan matang. Tiga tersangka, yakni Buchtar Tabuni, Fery Kombo, dan Alexander Gobay, yang menjadi Ketua BEM USTJ, diperkirakan memiliki massa yang besar di Papua.

Agus Kossay dikenal sebagai Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB), organisasi yang kerap dituding terlibat dalam sejumlah insiden di Papua.

"Sudah berbagai pertimbangan dan pengalaman terkait proses persidangan kasus makar. Massa mereka kan banyak. Oleh karena itu sidang tidak memungkinkan digelar di sini (Papua)," ujar Paulus.

Kabar pemindahan lokasi sidang telah diketahui juru bicara internasional KNPB Vitor Yeimo dan tim kuasa hukum Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua. Mereka berpendapat proses pemindahan melanggar Pasal 84 dan 85 KUHAP tentang pemindahan tahanan adalah wewenang pengadilan negeri atau kejaksaan.

Salah satu pengacara tersangka, Latifah Anum Siregar, menjelaskan kedua pasal tidak menyebutkan polisi berhak memohon pemindahan tahanan dan lokasi sidang. "Jadi diusulkan oleh kejaksaan setempat atau pengadilan negeri setempat, nanti penetapannya dari Mahkamah Agung," kata Latifah.

Ia menuding polisi terlalu terburu-buru menangani kasus dugaan makar karena kliennya masih proses berita acara pemeriksaan (BAP). Namun polisi sudah begitu yakin untuk mempersiapkan proses persidangan.

"Masih pemeriksaan, belum P21 (berkas lengkap), belum penyerahan. Kecuali bila waktu ditangkap, langsung dipindahkan, itu lain ya. Belum ada pemeriksaan awal di Polda setempat lalu langsung dipindahkan," ia menegaskan.

Polisi menangkap tujuh aktivis yang diduga sebagai dalang aksi protes antirasialisme, yang kemudian menjadi melibatkan kekerasan di Jayapura pada 29 Agustus 2019. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top