Aksi Tolak KUHP

Jenazah Juru Panggul Itu Terus Keluarkan Darah, Beda Keterangan Polisi dan Saksi

publicanews - berita politik & hukumSaat Maulana Suryadi (23) dimakamkan dengan kondisi kepala dipenuhi bercak darah. (Foto: dokumen keluarga).
PUBLICANEWS, Jakarta - Keluarga Maulana Suryadi alias Yadi (23) masih belum bisa menerima kematian juru panggul Pasar Tasik, Cideng, Jakarta Pusat, itu. Yadi menjadi korban meninggal dalam aksi demo penolakan RKUHP dan UU KPK di flyover Slipi, Jakarta Barat.

Jenazah Yadi telah dimakamkan pada 26 September lalu dengan kondisi masih tampak bercak darah yang keluar dari kepala. "Darah di wajah, kepalanya. Kan sudah dibersihin keluar lagi, keluar lagi," kata Ustad Ganda kepada wartawan, Jumat (4/10).

Ibunda Yadi, Maspupah (50,) menceritakan pada Rabu (25/9), korban berpamitan untuk bekerja. "Terus cium tangan, 'maafin Yadi ya, bu'. Cium tangan lagi," ujar Maspupah mengulang pernyataan anaknya, siang ini.

Di luar bayangannya, pada Kamis malam, ia kedatangan 8 polisi dengan dua mobil yang memberitahukan Maulana meninggal. "Saya kaget, nangis. Orang dia masih keadaan sehat," katanya.

Polisi yang mengantar mengatakan Yadi meninggal akibat terkena gas air mata dan penyakit asma. Mereka kemudian memberikan amplop berisi uang Rp 10 juta. Menurut Maspupah, polisi berpesan uang tersebut untuk mengurus jenazah anaknya. "Saya enggak banyak omong, takut," ujarnya.

Maspupah mengakui anaknya mengidap asma dan kerap sesak nafas bila sakitnya kambuh. Namun, ia tak menduga saat melihat jasad anaknya keluar darah dari daun telinganya. Pihak rumah sakit Polri Kramatjati menjelaskan darah di telinga akibat penyakit asma.

Kemarin, Kepala Instalasi Forensik RS Polri Kramat Jati Kombes Pol Edi Purnomo menegaskan tidak ada tanda kekerasan di tubuh Yadi. "Kalau orang meninggal memang seperti itu, keluar darah karena pecahnya pembuluh darah, karena faktor pembekuan," katanya.

Berdasar autopsi, ia menjelaskan, terjadi pembengkakan pembuluh darah di bagian leher Yadi. "Biasanya terjadi akibat sesak nafas," ujarnya.

Sementara itu Aldo, rekan Yadi, seperti diceritakan Maspupah, mengatakan ia bersama Yadi ditangkap polisi di sekitar Flyover Slipi. Keduanya kemudian dibawa mobil polisi. Dalam perjalanan Aldo mengaku tak sadarkan diri. Saat siuman Aldo sudah berada di dalam penjara bersama banyak orang, tetapi ia tak mendapati Yadi.

Mengenai kematian Yadi ini, Kapolri Jenderal Tito Karnavian pernah memberikan penjelasan pekan lalu. Ia menyebutkan adanya kematian satu pendemo yang bukan berasal dari pelajar dan mahasiswa ataupun perusuh. Tito juga menepis penyebab kematian Yadi karena tindakan refresif aparat. (feh)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Anak Gaul @gakasikah11 Oktober 2019 | 16:41:24

    waduh ngeri juga ya. sapa nih yang tanggungjawab. harus ada dong.

Back to Top