Investasi Bodong Mojokerto Gunakan Modus Ulama

publicanews - berita politik & hukumPara korban investasi bodong melapor ke crisis center Polres Mojokerto. (Foto: suaramojokerto.com)
PUBLICANEWS, Mojokerto - Investasi bodong PT RHS bisa mengakibatkan 109 orang merugi hingga Rp 7 miliar. Rahasianya, bos investasi abal-abal itu menggunakan sejumlah ulama untuk meyakinkan para korban agar mau berinvestasi.

Ricky Wijaya (36), salah satu korban asal Mojosari, mengaku ditawari ustad ISN sekaligus bendahara di Bisham, komunitas bagi para investor PT RHS. ISN mengenal Direktur PT RHS AR.

"Dia bilang AR adalah teman kuliahnya dulu, punya usaha di bidang suplier bahan bangunan. Dia bilang AR tidak mungkin mengecewakan karena sudah kenal lama," kata Ricky kepada wartawan, Rabu (11/9).

Ricky pun percaya dan tergiur dengan janji sistem bagi hasil 5 persen tiap bulan sehingga mau menanamkan uangnya Rp 25 juta ke PT RHS pada Desember 2017. Ia menyetor lagi Rp 45 juta.

"Dana saya transfer langsung ke rekening AR. Saya diberi sertifikat oleh AR melalui ISN. Bagi hasil 5 persen saya dapatkan sampai Februari 2018, setelah itu mandek," ujarnya.

Pada sertifikat tersebut terdapat hologram, nama PT RHS, serta tanda tangan AR selaku direktur. Menurut Ricky, Kepala Cabang PT RHS Mojokerto DW juga memanfaatkan ulama sekaligus anak kiai yang memiliki jemaah.

"Ada Gus yang disebut AR sebagai gurunya.Yang meyakinkan itu pakai agama, kok agama dipakai kepentingan seperti gitu," ia menuturkan.

Kuasa hukum para korban, Tuty Rahayu Laremba, sependapat bahwa ada sosok Gus yang dijadikan marketing. Para ulama ini tergabung dalam Tim 9 yang dibentuk AR. Mereka bersyiar agar para investor semakin yakin.

"Saya dapat konfirmasi dari para korban, salah satu modusnya lewat pengajian, dengan modus-modus jemaah, memakai nama besar tokoh agama sehingga korban tertarik," kata Tuty.

Sementara Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota AKP Julian Kamdo Waroka belum bisa memastikan ada ulama dalam kasus tersebut. "Sejauh ini korban menemui langsung DW. Uang dari DW kemudian diserahkan ke AR," Julian menjelaskan.

Para korban melapor ke Polres Mojokerto Kota, Selasa (3/9). Korban mencapai ratusan orang dengan nilai kerugian diduga miliaran rupiah. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top