Polisi Buru Jaringan 'Money Games' Lumajang

publicanews - berita politik & hukumKapolres Lumajang AKBP Muh Arsal saat memginterogasi MK tersangka money games. (Foto: tribratanewspoldajatim.com)
PUBLICANEWS, Lumajang - Polisi masih telusuri jaringan kasus money games bitcoin yang menipu hingga menyekap para anggotanya beberapa waktu lalu. Penyidik Polres Lumajang, Jawa Timur, masih mendalami keterangan tersangka utama bos PT Amoeba Internasional MK (48).

"Kemingkinan masih ada (tersangka lain) karena PT Amoeba berafiliasi dengan PT Q-Net sebagai induk perusahaan," kata Kapolres Lumajang AKBP Muh Arsal kepada wartawan di kantornya, Kamis (5/9).

Arsal menjelaskan mekanisme bisnis tersebut seperti multimarketing menggunakan skema binari atau piramida. Anggota baru diwajibkan mencari dua anggota baru lainnya.

Mereka dijanjikan akan mendapat 250 dolar AS hingga Rp 11 miliar jika memperoleh anggota terbanyak. Syaratnya, anggota diwajibkan mendepositokan Rp 10 juta. "Mereka juga dijanjikan mendapat gaji perbulan Rp 3 juta, tapi janji itu tak pernah ada," ujar Arsal.

Dari pengakuan MK, anggota baru akan dicuci otak dan diwajibkan membayar sejumlah nominal. Beberapa korban sampai menjual sawah, sapi, bahkan berutang ke rentenir maupun menggadaikan barang. "Sampai sekarang korban masih kebingungan melunasi utang-utangnya," Arsal menambahkan.

Sejumlah korban mengaku sempat disekap di satu rumah di wilayah Kota Madiun. Rumah tersebut dijaga ketat pihak perusahaan.

Kasus ini terbongkar setelah polisi mendapat laporan anak hilang. Setelah ditelusuri ternyata anak tersebut bergabung dengan bisnis PT Q-Net di Kota Madiun.

Selama penyekapan korban hanya diberi makan nasi dengan garam. Sebagian ada yang terpaksa mencuri tanaman singkong milik warga karena kelaparan. "Beberapa dari mereka terpaksa ada yang kabur melalui jendela di malam hari," Arsal menjelaskan.

Selama pemeriksaan, MK selalu membantah terlibat aksi penyekapan itu. Padahal bukti-bukti semuanya mengarah pada MK yang merupakan orang penting dalam bisnis ini. "Ada video presentasinya, brosur, dan juga majalah yang jelas memperlihatkan keberadaan MK," kata Arsal. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top