100 Hari Wafatnya M Yamin

Aktivis Pro Demokrasi Ingin Jokowi Wujudkan Indonesia Maju

publicanews - berita politik & hukumYuni Satya Rahayu, isteri almarhum Yamin, beserta kedua anaknya memberikan sambutan dalam acara 'Peringatan 100 Hari Wafatnya Muhammad Yamin', di Yogyakarta, Minggu (30/6). (Foto: Istimewa)
PUBLICANEWS, Yogyakarta - Sejumlah aktivis pro demokrasi dari generasi 70, 80 dan 90-an serta milenial mengikuti acara Launching Buku Bergerak sampai Akhir mengenang 100 hari wafatnya M Yamin, aktivis gerakan pro demokasi dan politisi. Acara diskusi dan testimoni para sahabat dan kawan Yamin ini dilangsungkan di Rumah Gerakan, Gang Rode, Sentulrejo, Yogyakarta, pada Minggu (30/6).

Acara dihadiri oleh 500 orang, diantaranya Ketua LPSK Hasto Atmojo, anggota DPR Abidin Fikri, Fadjorel Rahman, komisaris BUMN Dedy Mawardi, Amarsyah, dan Ifdhal Kasim. Kemudian Deputi Kantor Staff Kepresidenan Eko Sulistyo, dan advokat senior Kemal Firdaus dan Rambun Tjahjo. Tak lupa istri almarhum yang juga politisi PDIP Yuni Satia Rahayu

Buku Bergerak Sampai Akhir disusun oleh tim editor Edi Suprapto Imran Hasibuan dan sejarahwan Aris Santosa. "Buku ini untuk mengenang M Yamin sebagai sosok aktivis gerakan sejak dari mahasiswa UII, menjadi politikus, anggota parlemen, yang sampai akhir hidupnya sebagai Ketua zumum Seknas Jokowi dan Koordinator Relawan di TKN Jokowi Amin," ujar Ketua Panitia dari Keluarga Besar Rode Suprianto.

Fadjroel Rahman menambahkan, mengenang kawan aktivis yang telah tiada juga mengingatkan kembali agar kita selalu memperjuangkan idealisme sampai sekarang. Yamin dan mahasiswa di Yogyakarta yang beraktivitas di Rumah Rode ini, ujar aktivis gerakan mahasiswa ITB pada 1980-an itu, menjalin komunikasi dengan mahasiswa di kota lain seperti Bandung dan Jakarta.

"Saya sebagai aktivis mahasiswa di Bandung sering ketemu Yamin dan kawan-kawan di Rode untuk berdiskusi dan melakukan aksi advokasi membela rakyat yang ditindas oleh penguasa Orde Baru pada masa itu," katanya mengenang.

Sementara mantan Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim mengingatkan bahwa tanggung jawab aktivis adalah terus menyuarakan kebenaran. Mereka juga harus mewujudkan suatu tatanan pemerintahan yang demokratis, berkeadilan, dan menyejahterakan rakyat.

"Jadi, jika banyak aktivis mendukung Jokowi dalam Pilpres itu karena mempercayai Jokowi dapat mewujudkan keadilan dan kesejahteraan pada semua rakyat tanpa diskriminasi suku, agama, dan golongan," kata Ifdhal.

Eko Sulistyo memberikan kesaksian yang menarik, bahwa pada pilkada DKI Jakarta 2012 ketika Jokowi maju, elit PDIP Taufiq Kiemas yang berpengaruh di partai tidak mendukung. Yamin sebagai orang dekat Taufiq kemudian mendekatkan Jokowi dengan Taufiq.

"Sehingga akhirnya Taufiq Kiemas dan PDIP mendukung Jokowi dan menang," ujar Eko.

Priyambudi Sulistyo, aktivis Rode yang kini menjadi guru besar ilmu hukum di Universitas Flinders, Australia, mengatakan, Reformasi 1998 yang menumbangkan rezim militer Orde Baru merupakan antitesa pemerintahan yang korup, represif, dan pembangunan kapitalistik. Namun setelah puluhan tahun reformasi tidak menunjukkan tanda ke arah perjalanan bangsa yang maju karena demokrasi dihegemoni oleh oligarki politik.

Baru pada 2014 ketika para aktivis turun kembali. Priyambudi mengingat Yamin sangat antusias mengorganisasi kembali kawan-kawannya membentuk relawan Seknas Jokowi dan mendorong Jokowi maju Pilpres 2014.

"Harapan mereka mewakili harapan rakyat agar Jokowi dapat menjadi pemimpin negara Indonesia yang membawa kemajuan bangsa dan kemakmuran rakyat. Sehingga cita-cita perjuangan gerakan mahasiswa sejak 80-an bisa diwujudkan Jokowi," ujar Priyambudi. (oca/*)

Berita Terkait

Komentar(2)

Login
  1. Tukang Komen @pemberiKomentar01 Juli 2019 | 20:27:59

    Semoga masyarakat Indonesia semakin dewasa dalam berdemokrasi

  2. Anak Gaul @gakasikah01 Juli 2019 | 16:16:04

    Selamat jalan bro....semoga cita citanya menjadikan Jokowi presiden yg membawa Indoneaia sia lebih maju tercapai.

Back to Top