Ponorogo

Jemaah 'Kiamat Sudah Dekat' Pulang,Tapi Akan Kembali Lagi ke Ponpes

publicanews - berita politik & hukumWarga Desa Watubonang Kecamatan Badegan, Ponorogo, tiba di kampung halaman, Senin (15/4). (Foto: Beritajatim)
PUBLICANEWS, Ponorogo - Sebanyak 52 warga Desa Watubonang Kecamatan Badegan, Ponorogo yang sebelumnya eksodus ke Malang sudah kembali ke kampung halamannya, Senin (15/4). Mereka sebelumnya meninggalkan desanya karena mempercayai bahwa 'kiamat sudah dekat.'

Kepulangan mereka ternyata hanya untuk sementara. Puluhan warga ini berniat kembali ke Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Falahil Mubtadiin, Kasembon, Malang.

"Ini (pulang) karena akan mencoblos, sebelumnya belum mengurus surat pindah pilih," kata Ahmad Zamrosi, salah satu warga, Senin siang.

Sebagian warga yang lain akan menunggui anaknya mengikuti ujian akhir sekolah. Namun, kesemuanya sepakat untuk kembali ke pesantren. "Setelah urusan di sini selesai, kami akan kembali lagi ke Malang," ujar Zamrosi.

Zamrosi menegaskan tidak ada doktrin kiamat sudah dekat. Kepergian mereka karena ingin menjalani kehidupan santri di ponpes.

"Kami nyaman di pondok. Tidak ada dokrin kiamat seperti yang diberitakan," katanya.

Mereka mengaku nyaman di pesantren menjalankan ibadah, mengaji, dan menerapkan amalan ibadah lainnya. Dari 52 orang yang eksodus, tercatat ada 40 orang yang ikut rombongan pulang, hari ini. Mereka dijemput dengan tiga minibus yang difasilitasi Pemkab Ponorogo.

Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Ponorogo Sumani mengatakan, tidak akan menghambat rencana kembalinya warga ke Malang.

Sumani menjelaskan, Pemkab Ponorogo bakal menyiapkan kendaraan untuk mengangkut mereka kembali ke ponpes di Malang, tetapi mereka memilih untuk balik sendiri-sendiri.

Pesantren yang menjadi tempat mereka nyantri adalah Ponpes Miftahu Falahil Mubtadiin di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kacamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pesantren yang memanfaatkan lahan hampir satu hektare ini didirikan pada 1978 oleh KH Sholeh Saifudin. Saat ini ponpes dipimpin KH Agus Muhammad Romli Sholeh (Gus Romli)

Ada sekitar 1.000 jemaah yang tinggal di pesantren tersebut. Pesantren ini memiliki program tarekat Akmaliyah Ash Sholihiyah yang mensyaratkan jemaah membawa bahan pangan berupa gabah 5 kuintal.

Gabah itu bisa dibawa balik ketika tidak terjadi jatuhnya meteor atau ad-dhuqon. Jatuhnya meteor merupakan satu dari 10 tanda besar kiamat.

Ketika memasuki ponpes ini, jemaah akan disambut dengan spanduk besar bertuliskan: 'Selamat Datang Peserta Mondok Rajabiahan dan Biatan Plus Romadhonan Dalam Rangka Persiapan Akhir Zaman di Pon Pes Pulosari Kasembon Malang'. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top