Lilit Pejambret Pakai Ular, Oknum Polisi Diperiksa Propam

publicanews - berita politik & hukumPelaku jambret yang diinterogasi oknum polisi menggunakan ular, di Jayawijaya, Papua, Senin (4/2). (Foto: rakyatku.com)
PUBLICANEWS, Jayapura - Menginterogasi pelaku jambret menggunakan ular, oknum anggota Polres Jayawijaya, terkena pelanggaran etik. Ia diperiksa oleh Bidang Propam Polda Papua.

"Oknum anggota kami sudah diperiksa. Jika terbukti melanggar akan diproses sesuai dengan peraturan disiplin kode etik profesi," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes AM Kamal kepada wartawan, Jumat (8/2) malam.

Sang oknum dinilai tidak profesional menjalankan tugas penyelidikan. Dia menginterogasi pelaku penjambretan ponsel dengan melilitkan ular di lehernya. Video interogasi yang tak wajar tersebut viral di media sosial.

Polda Papua, ujar Kombes Kamal, menyayangkan sikap oknum polisi yang mengandalkan penyelidikan yang tidak sesuai aturan. "Kami minta maaf soal kejadian itu," ujarnya.

Inisiatif oknum polisi ini muncul ketika pejambret tidak mengakui ketika ditangkap warga telah mengambil ponsel korban. Pelaku masih mengelak meski polisi sudah turun tangan. Dari situlah, oknum polisi melilitkan ular di leher si pelaku sehingga mengakui perbuatannya.

"Langkah yang dilakukan anggota dengan maksud mengetahui kejujuran pelaku dan efektif hingga pelaku mengakui perbuatannya," kata Kamal.

Kapolres Jayawijaya AKBP Tonny Ananda Swadaya juga menyayangkap sikap anggotanya yang dinilai tidak etis. Meski, menurutnya, ular tersebut jinak serta tidak berbisa, namun cara interogasi itu tidak dibenarkan.

"Terkait dengan ini, kami telah melakukan tindakan tegas kepada personel dengan memberikan tindakan disiplin seperti kode etik serta menempatkan di tempat yang khusus," Tonny menambahkan.

Masyarakat justru menilai tindakan oknum polisi tersebut dianggap sangat berdampak menimbulkan efek jera bagi pelaku kejahatan di Kabupaten Jayawijaya.

"Kita sebagai masyarakat sudah merasakan efeknya. Masyarakat yang mabuk, jambret, dan yang membawa parang sudah berkurang," kata salah seorang tokoh masyarakat di Jayawijaya, Hengki Heselo. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top