Pembunuhan 169 Dukun Santet Banyuwangi, Pelanggaran HAM Berat

publicanews - berita politik & hukumIlustrasi
PUBLICANEWS, Jakarta - Komnas HAM telah menyerahkan berkas pengumpulan bukti dan keterangan (pulbaket) kasus pembunuhan dukun santet tahun 1998-1999 ke Kejaksaan Agung. Kesimpulannya, telah terjadi pelanggaran HAM berat dalam kasus pembunuhan di Banyuwangi itu dengan modus dukun santet.

Ketua Tim Penyelidik Beka Ulung Hapsara mengatakan, Komnas HAM mencatat berdasarkan data polisi di Banyuwangi korban tewas mencapai 169 orang sepanjang tahun itu.

"Kemudian dari NU membentuk tim semacam pencari fakta untuk kasus pembunuhan dukun santet ini, mereka mendata ada 147 orang," ujar Beka dalam jumpa pers di kantor Komnas HAM, Jalan Latuharhari, Jakarta Pusat, Selasa (15/1).

Komnas HAM menilai aparat cenderung lamban dan melakukan pembiaran. "Menerima laporan tetapi tidak mengambil tindakan yang efektif," ujarnya.

Saat itu, ia menambahkan, terjadi perburuan dan pembunuhan dukun santet. Kemudian, perburuan dan pembunuhan 'ninja' dan orang gila. 

Pembentukan tim khusus untuk kasus itu lantaran diduga banyak orang tak bersalah yang tewas terbunuh. Kasus ini pun oleh Komnas HAM dimasukkan dalam pelanggaran HAM berat. "Banyak orang tak bersalah terbunuh," kata Beka.

Peristiwa kelam itu terjadi pada kurun Februari hingga September 1998. Bahkan, pembunuhan di daerah Banyuwangi banyak disebut mirip pembantaian. Selain tejadi pembiaran oleh aparat, korban meninggal banyak menimpa guru mengaji, dukun suwuk atau penyembuh, hingga tokoh masyarakat. (feh)

Berita Terkait

Komentar(1)

Login
  1. Ezaramadhan @Ezza16 Januari 2019 | 14:13:46

    Masya allah kejam banget

Back to Top