Kriminalitas Aceh

Magfirah Dipenjara Bersama Tiga Bayi Kembarnya di Rutan Bireuen

publicanews - berita politik & hukumMagfirah (ketiga dari kiri) bersama ketiga anak kembarnya di Rutan Biueren, Aceh. (Foto: Istimewa)
PUBLICANEWS, Aceh Timur - Magfirah terpaksa merawat ketiga bayi kembarnya di Rutan Bireuen, Aceh Timur. Wanita 27 tahun ini menjadi terdakwa kasus penipuan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2015. Kasus ini dilaporkan sejak Juli 2017.

Di tengah proses penyidikan, ia melahirkan bayi kembar tiga pada 29 Agustus 2018 lalu. Ketiga bayi kembarnya terdiri atas dua perempuan dan satu laki-laki.

Kasus yang menjerat ibu muda ini, kemudian dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Bireuen. Pada 14 November 2018, ia dijemput polisi untuk menjadi tahanan jaksa dan diinapkan di Rutan Bireuen bersama ketiga anak kembarnya.

Sejak 19 November 2018 lalu, Magfirah sudah menjalani proses persidangan. Pada Senin (10/12), masa penahanannya diperpanjang hakim hingga 16 Februari 2019.

Magfirah berharap agar kasusnya segera diputus dan menjalani tahanan rumah agar bisa merawat ketiga anaknya dengan baik.

Kepala Rutan Bireuen Sofyan mengaku prihatin dengan nasib ketiga bayi yang harus berada di rutan. “Ruang tahanan memang lumayan bersih, tetapi lingkungannya jelas tidak nyaman untuk bayi,” ujar Sofyan, Senin (17/12).

Kasus yang menjerat Mahfirah ini berawal dari pertemuannya dengan korban Rahmawati di Pantai Jangka, Bireuen. Saat itu, ia berbincang via telepon dengan seseorang soal seleksi CPNS.

Rahma kemudian menanyakan apakah terdakwa bisa membantu menguruskan penerimaan PNS. Bahkan, korban juga menyodorkan dua nama lainnya. Saat itu, terdakwa belum menyanggupi.

Berselang beberapa hari, terdakwa menghubungi korban dan menyanggupi bisa mengurus proses penerimaan CPNS dengan biaya per orang Rp 7,5 juta. Mereka pun sepakat bertemu.

Menurut situs resmi PN Bireuen, pertemuan berlangsung di rumah kos Magfirah di Desa Paya Cut, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Uang yang diserahkan waktu itu berjumlah Rp 21 juta serta tiga berkas dokumen sebagai persyaratan.

Pada November 2016, terdakwa mengirim SMS ke Rahma dan memberitahu bahwa Rahma dan kedua rekannya diterima sebagai PNS di RS Santa Maria Pekannaru, Riau. SK dijanjikan keluar pada Februari 2017.

Bahkan, terdakwa menjanjikan bisa menguruskan kepindahan ke Aceh dengan biaya Rp 4 juta per orang. Korban kemudian mentransfer Rp 12 juta untuk tiga orang.

Tidak hanya di situ, terdakwa juga meminta korban mencari CPNS lain. Rahma menyodorkan empat orang yang berminat. Terdakwa meminta mereka mentansfer masing-masing Rp 11 juta pada Maret 2017.

Menjelang Juli, Rahma menanyakan mengenai SK PNS. Korban dan terdakwa kemudian bertemu. Saat itu, Magfirah mengakui bahwa penerimaan PNS tidak ada. Terdakwa menjanjikan akan mengembalikan uang tersebut.

Tak kunjung mengembalikan uang, korban pun melapor ke Mapolres Bireuen. (feh)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top