Korban Pelecehan Seksual

Anak Nuril Tulis Surat untuk Jokowi, 'Jangan Suruh Ibu Saya Sekolah Lagi'

publicanews - berita politik & hukumBaiq Nuril Maknun saat masih ditahanan di Mataram. (Foto: media sosial)
PUBLICANEWS, Jakarta - Baiq Nuril Maknun (36) guru SMAN 7 Mataram, korban pelecehan seksual yang malah dipersalahkan melanggar UU ITE, mengirim surat kepada Presiden Joko Widodo kemarin.

Ternyata bukan hanya Nuril, anaknya Rafi juga melayangkan surat untuk orang nomor satu di Indonesia itu. Surat Rafi ditulis di kerat bergaris yang biasa ia pakai belajar di sekolah.

"Surat tersebut benar ditulis oleh Baiq Nuril dan anaknya," ujar Koordinator Tim Hukum Baiq Nuril, Joko Jumadi, kepada media, Kamis (15/11).

Yang membuat terenyuh, Rafi mengira ibunya Nuril sedang 'disekolahkan' saat ditahan polisi dalam proses penyelidikan kasusnya pada 24 Maret 2017 lalu. Begini bunyi surat Rafi tersebut, sangat ringkas:

Kepada Bapak Jokowi
Jangan suruh ibu saya sekolah lagi
dari Rafi


Nuril memang pernah berbohong pada anak bungsunya yang berusia 5 tahun itu saat ia ditahan dua bulan dalam proses penyelidikan kasus ini di kepolisian, 2017 lalu. Ia mengatakan sibuk di sekolah.

Anak sulungnya kelas VIII SMP, lalu anak keduanya kelas V SD. Si bungsu Rafi pernah ia ajak menginap di sel tahanan. Namun kemudian dibawa pulang suaminya Lalu Muhammad Isnaini (40), setelah ia memutuskan berhenti bekerja di Gili Terawangan.

”Anak saya yang paling kecil selalu nanya kepada saya kenapa saya tidak pernah pulang,” ujar ibu tiga anak warga Desa Perempuan, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, NTB, itu.

Nuril tidak ingin anak-anaknya kecewa jika mengetahui ibunya sebenarnya di penjara.

Tagar #SaveIbuNuril, Simpati Publik Untuk Korban Cerita Mesum

Surat Rafi itu juga diungga komika Mouadkly Acho lewat akun twitter @MuhadklyAcho, kemarin. Selain surat Radi, Acho juga mengunggah surat Nuril kepada Jokowi. Seperti punya Rafi, Nuril juga menulis surat di secarik kertas tulis bergaris.

"Saya minta keadilan. Saya mohon kepada bapak presiden bebaskan saya dari jeratan hukum yang sedang saya alami. Saya tidak bersalah, saya minta keadilan yang seadil-adilnya," Nuril menulis dalam surat bertanggal 14 November 2018.

Nuril yang diputus bebas oleh PN Mataram, NTB, divonis bersalah dalam sidang kasasi di Mahkamah Agung (MA). Hakim Kasasi menyatakan guru honorer merangka staf Tata Usaha SMA 7 Mataram itu melanggar Pasal 27 ayat 1 UU ITE karena menyebarkan informasi elektronik yang mengandung muatan asusila.

Hakim menjatuhkan hukuman 6 bulan penjara dan denda Rp 500 juta subsider tiga bulan kurungan.

Publik kecewa dengan putusan MA tersebut karena menganggap Nuril adalah korban pelecehan seksual Muslim, sang kepala sekolah. Nuril kerap diajak bercakap-cakap soal pengalaman hubungan badan Muslim dengan staf bendahara sekolah tersebut. Ia juga beberapa kali dipanggil ke ruang kepala sekolah hanya untuk mendengarkan bualan yang sama.

Bahkan, pada 2014 lalu saat kejadian ini berlangsung, Nuril bebarapa kali diajak menginap ke hotel oleh Muslim. Ia tidak berani melapor karena takut dipecat.

Namun, pada telepon yang kesekian kalinya, Nuril memberanikan diri untuk merekam percakapan sang kepala sekolah.

Pada Desember 2014, seorang rekannyya meminjam hp Nuril. Dan sejak itu percakapan mesum Muslim tersebar, aib sang kepala sekolah yang kini dipromosikan sebagai Kabid Pemuda pada Dispora Mataram, pun terbongkar. Namun justru Nuril yang harus menanggung hukuman. (ian)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top