Kepala Sekolah SMP se-Garut Deklarasi Tolak LGBT

publicanews - berita politik & hukumDeklarasi menolak LGBT oleh para kepala sekolah SMP se Kabupaten Garut, Jawa Barat, di SMP Yos Sudarso, Rabu (10/10). (Foto: inews)
PUBLICANEWS, Garut - Ratusan Kepala Sekolah seluruh SMP di Kabupaten Garut menyerukan deklarasi menolak aktivitas Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Deklarasi ini imbas dari munculnya grup komunitas gay di Facebook yang anggotanya pelajar.

"Kami para sekolah SMP yang tergabung dalam MKKS Kabupaten Garut yang berjumlah 384 kepala sekolah menyatakan menolak dengan tegas LGBT," kata Kepala MKKS SMP Garut Yusuf Satria Gautama di SMP Yos Sudarso, Jalan Ahmad Yani, Garut Kota, Rabu (10/10).

Ketua Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Garut Totong masih optimis bahwa mayoritas pelajar dan pemuda Garut merupakan generasi yang religius dan taat terhadap norma-norma yang ada.

"Mudah mudahan semua itu hanya tren di media sosial dan tidak dalam kehidupan nyata," ujar Totong, di lokasi yang sama.

Menurutnya, kemunculan grup Facebook LGBT yang melibatkan pelajar sangat meresahkan masyarakat. Ia meminta kasus ini ditindaklanjuti dan para orangtua tidak boleh tinggal diam.

Waspada, Grup Komunitas Gay di Garut Beranggotakan 2.600 Orang

Para peserta deklarasi termasuk siswa-siswi yang bergabung menyatakan perang terhadap LGBT. "Kami telah menabuh genderang perang kepada LGBT karena merusak moral generasi muda," kata Totong.

Totong berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk mencari tahu keterlibatan para pelajar. Pasalnya, adanya pelajar yang menjadi anggota grup penyuka sejenis itu masih tanda tanya. Sampai sekarang, belum ada laporan pelajar terlibat.

"Belum ada bukti otentik bila para pelajar terlibat gay di Garut. Sekali lagi, semoga itu hanya viral di dunia maya saja," Totong menambahkan.

Deklarasi ini akan diaplikasikan melalui berbagai program di sekolah. Yakni program 'One Day One Ayat'. Para guru wajib datang lebih awal untuk menyambut siswa di sekolah.

"Sejak awal 2018, kami juga sudah melarang para siswa membawa ponsel, razia juga dilakukan di sekolah," ia menandaskan.

Apabila ditemukan ada pelajar yang terlibat komunitas LGBT, maka akan segera diberikan pembinaan intensif. Jika pelanggarannya sudah berat, siswa akan diberi sanksi tegas. "Siswa tersebut akan dikeluarkan dari sekolah agar ada efek jera," Toton menegaskan. (imo)

Berita Terkait

Komentar(0)

Login
    Tidak ada komentar pada artikel ini

Back to Top